Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2017

ALLAH ITU MAHA PENYAYANG, NAK


       Tiba-tiba saja ketika bermain dengan kakaknya, Nawwaf (4 tahun) berseru, “Nanti Allah marah! Kakak tidak boleh mengambil mainanku. Sekarang serahkan padaku! Mana, ayo cepat! Nanti saya laporkan Allah!”
Saya amat tertegun saat anak kedua saya bisa melontarkan kata-kata seperti itu pada kakaknya. Tentu saja karena apa yang baru saja keluar dari mulut kecilnya tersebut mengandung tiga interpretasi linear sekaligus bagi saya, sebagai ayahnya. Pertama, Alhamdulillah, anak itu sudah mengenal Tuhannya walau sejauh apa yang bisa ia terima di nalarnya (setidaknya dia menyebut asma Allah). Dan yang kedua, adanya persepsi Tuhan yang marah jika terdapat kelakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Serta yang ketiga, baginya Tuhan adalah tempat untuk melaporkan segala sesuatu.
Ada perasaan yang bergetar saat si kecil Nawwaf sudah biasa menyebut nama Tuhan. Entah itu Bismillah, Alhamdulillah, doa sebelum makan, doa sebelum tidur, dan lainnya. Mengenalkan adanya Allah sebagai satu-satunya pencipta alam semesta dan pengatur jagad raya itu memang tugas utama dan prioritas awal sebagai orang tua. Bukankah fitrah manusia memang ingin menghamba dan mencari Tuhannya? Kalaupun nanti anak-anak kelak dewasa dan mampu berfikir dengan benar, saya yakin semuanya akan mencari jati dirinya sebagai ciptaan dari Tuhan.
Namun, tidak semua anak-anak paham dengan sifat-sifat Allah. Nawwaf kecil bahkan mengidentikkan Tuhan sebagai sosok yang mudah sekali marah serta paling ditakuti oleh semua anak yang lain. Benar, Tuhan memang harus ditakuti. Karena semua perintah dan larangan-Nya wajib ditaati. Tetapi Tuhan juga mempunyai kasih dan sayang yang berlimpah kepada seluruh hambanya.
Maka pangkulah anak-anak kita. Berilah contoh sempurnanya tubuh kita yang diciptakan oleh-Nya. Mata yang bisa melihat keindahan dunia, telinga yang bisa mendengar merdunya suara, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, serta udara yang tiada habis kita hirup sepanjang hari. Dan itu adalah karunia Allah yang tiada batas pada manusia. Jadi, Nak, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah mengasihi dirimu, juga ayah ibumu.
Saya trenyuh saat Nawwaf akan melaporkan kelakuan kakaknya yang tidak ia sukai pada Allah. Meskipun anak-anak biasa suka jujur dan terasa asal berbicara. Tapi setidaknya dia tahu bahwa Allah itu tempat mengadukan semua permasalahan yang ada. Dan perlu ada penjelasan bahwa Allah bukan semata-mata Dzat untuk mengadu, tetapi juga memohon segala sesuatu.
Kemudian ajaklah anak-anak kita untuk mengangkat tangan bersama. Berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Meminta kelapangan rizki dan usia panjang yang berkah. Bahkan harapan-harapan konkret anak yang bisa ia nalar pun tidak ada salahnya dilantunkan. Misalnya saja berdoa untuk meminta mobil mainan, sepeda, buku bergambar yang baru, dan yang lainnya. Bukankah Allah Maha Mengabulkan segala permintaan orang yang meminta. Atau paling tidak sudah tertanam oleh anak bahwa Allah tempat bergantung hambanya. Dan rizki yang diperoleh dari orang tuanya itu sebenarnya rizki yang datang dari Allah SWT.

Rabu, 28 September 2016

Agar Anak Mematuhi Orang Tua #WiseParenting


       Orang tua yang bijak terlebih dahulu akan memilih pola asuh yang tepat untuk anak. dan kata kuncinya adalah instropeksi. Ya, sekarang saatnya kita instropeksi diri dalam mendidik anak. Apakah kita terlalu permisif pada anak sehingga mereka bahkan tidak menghormati kita? Ataukah kita terlalu otoriter sehingga membuatnya merasa luar biasa takut di rumah tapi bisa sok sangat bebas di luar rumah? Ataukah kita berlepas tangan hingga mungkin saat kita perlu bicara padanya mereka juga tidak perlu merasa mendengarnya?
Pola asuh amat mempengaruhi sikap dan karakter anak. Sehingga kita perlu untuk merubahnya lebih bijaksana agar anak-anak mengerti jika keberadaannya sangat berarti bagi kita. Dan dia pun paham bahwa keberadaan kita juga sangat berarti bagi mereka. Dengan demikian anak-anak yang cenderung suka membangkang dan menentang dapat mengurangi sikap mereka tersebut pada kita.
Selayaknya kita bijaksana menyikapi anak-anak yang suka membangkang setelah mengidentifikasi pemicunya, meskipun kita memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk membuatnya lebih disiplin dengan secepat kilat. Karena layaknya sebuah karakter lainnya, kedisiplinan berasal dari pembiasaan yang dibudayakan. Sehingga alangkah baiknya bila semua hal buruk anak juga dikembalikan lagi pada diri kita masing-masing.
Introspeksi diri adalah langkah awal untuk memperbaiki keadaan. Mungkinkah anak kita belajar cara membangkang dari kita sendiri? Misalnya, apakah kita memaksakan suatu hal kepada anak seperti kita melakukannya kepada teman-teman kita? Ataukah kita menolak mendengarkan permintaan keluarga ketika bernegosiasi dan bermusyawarah di rumah? Apakah kita menginginkan semua peraturan dipatuhi tanpa kecuali? Apakah kita terlalu menuntut atau terlalu mengendalikan? Intinya adalah apakah kita menampilkan sikap yang kita inginkan untuk ditiru anak? Karena sudah berulang kali disampaikan bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung. Dan tentu saja role model terdekatnya adalah kita, para orang tua.
Cobalah ingat respon kita kepada anak akhir-akhir ini. Bagaimana kita menyampaikan permintaan kepada anak? Apakah kita menyatakan permintaan dengan nada yang tenang dan menghargai, ataukah malah sebaliknya dengan berteriak, memaksa atau mengancam? Apakah kita bersikap santun dan menunggu anak dengan sopan? Apakah kita terlalu menuntut kepatuhannya? Ataukah bersedia mendengarkan permintaan anak? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dengan hati yang jernih dapat kita ungkap.
Berikutnya untuk memahamkan anak supaya meminimalisasi pembangkangan, coba tekankan rasa empati ini pada anak, Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan. Hargai orang lain seperti halnya kamu juga ingin diperlakukan.
Ajarkan pada anak untuk menanyakan pada diri sendiri sebelum dia melakukan sesuatu, Apakah kamu mau diperlakukan seperti itu? Jika anak sudah bisa mengungkapkan perasaan dan juga dapat merasakan perasaan orang lain, itu akan jauh lebih mudah membuatnya untuk bisa mengendalikan ucapan dan tindakan yang sekiranya dapat membuat orang lain merasa tersinggung, marah, jengkel, dan sebagainya.
Anak-anak pembangkang juga cenderung mengubah segala hal menjadi perebutan kekuasaan, yang berujung pada pertengkaran. Kita sebaiknya selektif memilah masalah yang agak terasa penting, misalnya masalah akhlak, dan membiarkan masalah yang tidak begitu penting, seperti makan sayur, untuk menjaga kondisi rumah lebih tenang dari frekuensi pertengkaran antara kita dan anak. Sebab sering kali pertengkaran itu disebabkan oleh cara kita meminta anak untuk patuh dalam sekejap, sedang banyak sekali sesuatu yang menurut kita baik bagi anak malah selalu ditentangnya. Dan tentu saja, dengan menyeleksi secara bijaksana banyaknya permintaan dan tuntutan kita yang nanti dapat berujung pada pertengkaran dengan anak.
Meskipun komunikasi masih menjadi inti dari permasalahan anak yang menentang, tetapi ada beberapa tehnik khusus yang dapat dilakukan untuk dapat mereduksi penentangan dan pembangkangan. Deborah Carol dan Stella Reid dalam buku Nanny 911, mengemukakan beberapa trik seperti di bawah ini:
Turunkah tubuh kita sejajar dengan tinggi anak, bisa dengan membungkuk, berlutut, atau duduk.
Tatap mata anak, ini adalah proses yang amat penting. Jika diperlukan palingkan wajah anak pada kita sehingga kontak mata dapat terjalin, tentunya dengan rengkuhan tangan yang lembut saat memalingkan wajahnya.
Apabila anak dalam keadaan marah, kita dapat mengusap bagian punggung atau perutnya. Kita tidak perlu memeluk atau menariknya, kecuali anak dalam kondisi sangat histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan dia tenang dulu sebelum memulai percakapan apapun. Dan mintalah anak untuk mengatur pernafasan dengan menarik nafas dalam-dalam.
Jaga nada suara kita, berkatalah dengan suara yang tegas tetapi lembut. Suara seseorang secara alami berfluktuasi naik turun ketika sedang bahagia atau dalam keadaan senang. Suara serius untuk mempertegas adalah suara yang tidak bernada terlampau tinggi.
Beri ungkapan kepada anak untuk membantu mengalirkan percakapan dan perasaannya. Misal, Coba ikuti ibu, kemudian, Apa yang membuatmu kesal?
Ulangi apa yang yang dikatakan oleh anak. Itu menunjukkan kepada mereka kalau kita benar-benar mendengarkan apa yang telah mereka ucapkan.
Jangan langsung menyela. Biarkan anak menyelesaikan apa yang ingin mereka sampaikan tanpa harus disela oleh kita.
Tetaplah tenang. Ketenangan kita menghadapi anak-anak akan mendorong mereka lebih tenang dari sebaliknya.

Selasa, 06 September 2016

Efek Pola Asuh #WiseParenting


       Lia (5 tahun) kedapatan ibunya hanya meletakkan bungkus permen begitu saja di atas meja setelah ia makan. Ibunya kemudian berkata, Sayang, bungkus permennya kan seharusnya dibuang di tempat sampah. Lia langsung memandang ibunya dengan mimik cemberut seraya menjawab, Sebentar Ma, aku sedang mewarnai buku gambarku.
Gambaran di atas tentu menunjukkan sebuah penentangan atau bantahan seorang anak yang tidak mau dengan segera membuang bungkus permennya karena dia masih sibuk mewarnai buku gambarnya. Tapi bila bijak kita akan mencoba menarik kesimpulan sendiri secara sederhana, bahwa anak memiliki alasan logis mengapa dia tidak segera membuang sampahnya, yaitu dia masih asyik dan berkonsentrasi penuh dengan urusannya mewarnai.
John Gray dalam Children are from Heaven mengatakan bahwa fase anak yang mulai protes dan menentang terhadap orang tua adalah bentuk perlawanan yang disebabkan anak sudah mulai mempunyai keinginan dan kebutuhannya sendiri. Penentangan ini juga menunjukkan jika anak sudah mulai memasuki tahap mandiri dan ingin tidak bergantung pada orang tuanya.
Sekarang mari bayangkan keempat penanganan empat tipe pola asuh seperti yang sudah dipaparkan di atas. Orang tua jenis otoriter tentu akan berkacak pinggang dan dengan muka marah langsung berseru, Sekarang juga buang sampahnya! Atau Mama juga akan membuang buku gambarmu sekalian!
Mungkin Lia akan langsung membuang sampahnya karena dia tidak bisa lagi mendebat ibunya yang marah. Tapi dalam hati dia akan tetap menggerutu. Dan mulailah akal cerdiknya mencari alasan supaya esok hari tidak mendapat marah jika meletakkan bungkus permen di atas meja. Bisa saja bungkus permen akan diselipkan di tas, di buku, atau alasan lainnya. Dan karena sekarang Lia sudah jengkel, bisa jadi moodnya mewarnai juga hilang. Akhirnya dia hanya duduk di atas kursi menatap gambarnya sambil terus cemberut.
Sementara itu orang tua tipe permisif akan langsung pergi tanpa berkata apa-apa dengan membawa sendiri bungkus permen yang tadi digeletakkan Lia di atas meja. Lia akan melirik sedikit ke ibunya dan dia senang di dalam hati. Berarti besok dia tidak perlu lagi membuang sampah ke tempat sampah. Toh, ibunya selalu membereskannya.
Sedang tipe demokrasi mencoba mendiskusikan terlebih dahulu dengan anak, Baiklah, sayang, tapi jika sudah selesai mewarnai pohonnya segera dibuang dulu ya bungkusnya. Nanti banyak semut yang mengerubuti bungkus permennya lho! Jadi jijik deh mejanya. Dan masih asyik mewarnai Lia menjawab, Ya, Ma. Ibunya pergi dari tempat duduknya tapi masih lagi berkata, Lima menit lagi Mama akan lihat apa kamu sudah membuang bungkusnya apa belum. Tipe orang tua demokrasi mencoba memberi kepercayaan pada anak untuk melakukan tanggung jawab. Tapi harus juga dilihat bentuk kepercayaan dan tanggung jawab anak itu hasilnya. Karena jika dalam lima menit belum dibuang bungkus permennya, maka orang tua harus tegas pada anak.
Tipe pola asuh yang keempat atau lepas tangan, tidak akan merespon apapun terhadap kegiatan anak-anak. Mereka mungkin akan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hanya berbasa-basi menanyakan ini dan itu pada anak. Walau urusannya itu sekadar menonton acara gossip televisi. Anak pun merasa tidak perlu mengatakan apapun pada orang tua, toh percuma juga apabila kegiatan dan hasil karyanya ditunjukkan. Orang tua tidak akan menggubrisnya. Sehingga timbullah pemikiran bahwa apapun yang ia lakukan di dunia ini tidak ada yang memedulikan.

Sabtu, 03 September 2016

Tipe Pola Asuh Orang Tua #WiseParenting


            Tanpa disadari, pola asuh kita terhadap anak akan sangat berpengaruh pada mentalitas dan cara pandang kehidupan anak itu sendiri. Bayangkan orang tua yang terlalu keras dan sangat kaku menerapkan pola asuh sampai anaknya berpendapat saja tidak berani mengucapkannya. Atau orang tua yang terlalu sayangnya hingga memanjakan anaknya sampai orang tuanya tidak mau sama sekali berkonflik dengannya. Nah, beberapa pola asuh tersebut langsung bisa kita ketahui ujungnya. Bagaimana dengan kita?
            Menurut Diana Baumrind dalam Effective Parenting during the Early Adolescent Transition membagi pola asuh menjadi 4 bagian, yakni permisif, otoriter, demokrasi, dan lepas tangan. Keempatnya memiliki pola asuh yang khas dan bisa berakibat pada kebebasan atau kontrol pada anak yang berlainan.
            Pola permisif yaitu pola asuh orang tua yang berusaha untuk sama sekali meniadakan hukuman, menerima apapun keinginan anak, selalu membenarkan cara anak meski meledak-ledak, mengiyakan hasrat anak, dan aksi mereka. Orang tua seperti ini sangat hangat pada anak-anaknya tetapi tidak pernah memerintah. Mereka sangat memanjakan dan pasif dalam pola asuh, dan orang tua seperti ini sangat percaya bahwa untuk mewujudkan kasih sayang mereka adalah melalui harapan yang membahagiakan pada anak.
            Orang tua permisif tidak suka mengatakan ketidakpuasan pada anak-anak mereka. Dan hasilnya, anak-anak akan melakukan apapun sebebas-bebasnya tanpa kontrol dari orang tua. Anak-anak bisa dengan sesukanya memilih keputusan apapun yang mereka inginkan tanpa masukan dari orang tuanya. Akibat dari pola asuh seperti ini adalah anak-anak yang kurang dapat mengendalikan egonya dan seenaknya sendiri.
            Pola asuh kedua adalah otoriter. Orang tua semacam ini sangat ketat mengontrol anak. Mereka mengagungkan kedisiplinan, menggunakan hukuman, dan selalu menyuruh anak-anak untuk taat pada perintah yang mereka buat. Pokoknya semua perkataan orang tua harus dituruti karena ada konsekuensi yang mereka terapkan jika anak membantah dan tidak patuh.
            Orang tua otoriter tidak perlu mendiskusikan apapun tentang peraturan yang berlaku di rumah. Karena yang penting, semua yang mereka perintahkan harus dipatuhi anak. Orang tua semacam ini juga percaya bahwa anak-anak harus menerima, tanpa membantah sedikitpun, aturan dan perintah yang mereka buat. Pada kenyataannya, anak-anak dengan orang tua semacam ini akan menghasilkan dua sikap berbeda anak, terutama jika berada di luar lingkungan rumah. Pertama, kemungkinan anak akan menjadi pemberontak, dia akan merasa sangat bebas ketika tidak berada di dalam rumahnya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan yang membelenggunya. Lalu bisa jadi menghasilkan sifat agresif. Sedangkan yang kedua, kemungkinan anak tidak dapat mandiri dan tidak punya inisiatif. Seringnya perintah dan perlakuan keras orang tua membuat anak seolah takut melakukan apapun karena ada konsekuensi baginya jika salah dalam melakukan sesuatu. Akhirnya anak hanya pasif dan tak akan melakukan apapun sebelum diperintah terlebih dahulu.
            Orang tua demokrasi mencoba memberikan kebebasan pada anak tetapi dalam batas-batas dan kendali. Mereka tidak akan langsung bicara, “Pokoknya ibu sudah katakan seperti itu, harus tetap dilaksanakan!” tapi mereka mendengarkan alasan dalam sudut pandang dan alasan yang dibuat anak, “Ibu memberimu waktu lima menit, sesudah itu kamu harus melaksanakannya.”
            Orang tua tipe ini mau untuk diajak berdiskusi dengan anak-anak, menyepakati bersama aturan, dan menerapkan aturan sesuai dengan kesepakatan yang sudah diketahui bersama dengan anak-anak. Sehingga anak-anak akan belajar pula tentang tanggung jawab karena mereka mengetahui sebelumnya konsekuensi apa yang akan diperoleh jika melakukan atau tidak melakukan ini dan itu.
            Orang tua yang lepas tangan adalah pola asuh terakhir. Biasanya orang tua seperti ini mempunyai waktu amat sedikit untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Mereka tidak akan memerintah atau mengiyakan apapun dari anaknya. Semua terserah anaknya karena mereka tidak terlibat apapun atau bahkan mengabaikan akan. Kalimat yang sering diucapkan orang tua model ini seperti, “Terserah, pokoknya saya tidak mau tahu!” atau, “Mengapa ibu harus peduli?”

            Akibat dari orang tua yang berlepas tangan karena tidak memiliki banyak waktu dengan anak adalah seperti pada halnya pada pola asuh permisif. Anak akan mempunyai perilaku seenaknya, bebas sebebas-bebasnya, bahkan lebih parah lagi yakni bermasalah pada perilakunya di kehidupan sosial.

Rabu, 24 Agustus 2016

Indikasi Temper Tantrum #WiseParenting


       Anis (3 tahun) diajak berjalan-jalan oleh ibunya di pertokoan. Tiba di sebuah etalase yang dipenuhi dengan boneka, Anis pun terpesona pada satu boneka berambut panjang dengan tidak berkedip. Sedetik kemudian bocah perempuan itu langsung meminta pada ibunya untuk segera membelikan boneka tersebut. Ibu Anis merespon tidak karena merasa boneka Anis sudah banyak dan minggu lalu pun sudah pula ibunya belikan yang baru. Anis tetap ngotot dan berulang kali meminta ke ibunya. Sedang jawaban ibunya pun masih tidak. Tak seberapa lama Anis mulai menangis, semakin lama semakin kencang. Dan kini ia pun tidak mau bergerak dari tempat etalase tersebut. Malah ia bergulingan ke lantai dengan kaki yang menendang-nendang sembari menjerit dan menunjuk ke arah boneka yang dia inginkan.
Kita, orang tua, pasti pernah mengalami bagaimana seorang anak mengalami saat-saat marah yang keterlaluan, mengamuk, bergulingan di lantai, mencakar dirinya dan orang lain, membuang apapun yang ada di dekatnya, serta berteriak-teriak tak karuan dengan keras sembari menangis kencang. Itulah saat anak-anak mengalami temper tantrum. Masa yang membuat kita juga ikut terlibat dalam suasana stress, geregetan, marah, dan ingin sekali mengambil tindakan supaya anak kita segera menghentikan perbuatannya tersebut.
Temper tantrum sebenarnya perilaku umum yang biasanya didapati anak usia 0-6 tahun yang mungkin sekali ingin mengekspresikan kemarahannya dengan melakukan perbuatan seperti dicontohkan di atas, seperti menendang, membuang apapun yang ada di dekatnya, berteriak, menangis sejadi-jadinya, bergulingan di lantai, bahkan terkadang sampai menahan nafas hingga sesenggukan dan susah menghirup udara.
Tantrum mulai terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun, ketika mereka mulai bertahap mengenal tentang konsep diri. Meskipun konsep aku dan apa yang sebenarnya kuinginkan cukup mampu mereka terima, tapi mereka terlalu kecil untuk mengetahui seharusnya bagaimana memuaskan apa yang mereka inginkan tersebut. Sehingga tantrum menjadi titik temu antara energi dan hasrat yang terlampau besar pada anak dengan kebutuhan dan keinginan yang ingin segera mereka wujudkan yang terkadang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
Biasanya tantrum memuncak di usia 2 hingga 3 tahun, dan akan mengalami penurunan pada usia 4 tahun. Sedang jika di usia 4 tahun atau lebih anak masih sering kali mengalami temper tantrum, ini harus diwaspadai dan dievaluasi oleh professional. Bisa jadi hal tersebut sudah menyimpang dari perilaku normal dan pencetus timbulnya masalah perilaku yang lebih besar lagi.
Kebanyakan tantrum di usia 2-3 tahun terjadi jika mereka mendapat perkataan atau jawaban dari orang tuanya tidak terhadap sesuatu yang mereka inginkan. Kemudian akan mereda jika keinginan yang anak-anak inginkan itu terlaksana. Sedangkan rentang masa terjadinya tantrum ini tergantung dari tingkat energi anak serta kesabaran dan keterampilan orang tua dalam pengasuhan. Karena tentunya kita ingin sekali menghentikan tantrum, bukan? Terlebih jika anak melakukan tantrum di tempat umum yang pastinya membuat kita menjadi gusar.

Senin, 01 Agustus 2016

Memupuk Tanggung Jawab pada Anak #WiseParenting


       Bertanggungjawab berarti mampu dipercaya, menepati janji, dan menghargai komitmen. Berani tanggung jawab juga berarti konsekuensi dari perkataan dan perbuatan. Anak-anak yang mempunyai rasa tanggung jawab tidak akan begitu saja mencari alasan-alasan pemakluman atas perbuatan yang ia lakukan atau malah justru menuduh orang lain yang melakukan.
Cobalah dengarkan gaya beberapa orang tua jika anaknya (1-3 tahun) secara tidak sengaja jatuh, mereka akan berkata, Sudah bangun tidak apa-apa, Iiihkodoknya nakal. Kalimat itu sering terdengar. Jika tidak menyalahkan kodok yang memang tidak ada di tempatnya, barang kali akan menyalahkan tembok, batu, kerikil, dan lainnya. Alangkah lebih baik jika mengatakan, Sudah bangun tidak apa-apa, nanti jika lewat sini hati-hati ya, matanya melihat ke bawah. Ungkapan tersebut lebih bermakna rasa tanggung jawab. Sebab kesalahan terjatuh disebabkan karena anak kurang berhati-hati. Bukan karena kodok dan sebagainya. Sehingga anak tidak akan melempar kesalahan dan tanggung jawab pada yang lain apabila dia yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Beberapa langkah bijak yang dapat kita lakukan agar anak mampu bertanggungjawab adalah sebagai berikut:
Beri contoh bagaimana bertanggungjawab. Dari pada menasehati dan memerintah, lebih baik contoh dan lakukan bersama anak. Misalkan sewaktu membereskan mainan setelah dipakai. Jika kita berteriak saja, kecil kemungkinan anak (2-3 tahun) akan dengan senang hati mengikuti. Tapi kita contohkan dengan bersama-sama merapikannya. Sambil terus diberi arahan bahwa seperti itulah cara merapikan mainan dengan benar.
Kenali perkembangan rasa tanggung jawab mereka. Sebab tidak ada yang instant dengan kemampuan mempunyai rasa tanggung jawab ini pada anak-anak. Semuanya diawali setahap demi setahap dan kita tidak bisa hanya langsung memberikan arahan tanpa harus mencontohkan seperti apa bentuk tanggung jawab tersebut. Ingat, anak usia dini masih berpijak pada nalar konkret. Contohnya, jika pada hari berikutnya anak belum merapikan mainan cobalah kembali merapikan bersamanya. Jika kita sendiri yang melakukannya, maka ia berpikir bahwa merapikan mainan adalah urusan orang tua dan bukan menjadi tanggung jawabnya. Di hari berikutnya, awasi saja sehingga dia sendiri dapat melakukannya sendiri.
Ajari anak memilih sesuatu disertai dengan konsekuensinya. Misalnya, jika suatu saat anak  (2-4 tahun) merengek minta dibelikan balon maka katakan jika dia sudah mendapatkannya maka tidak ada lagi uang jajan, itu konsekuensinya. Dan kita harus menepati ucapan kita supaya dia belajar berkomitmen.
Jangan menunggu sampai anak selesai melakukan tanggung jawabnya, berilah penghargaan yang bisa menguatkan pengertian tanggung jawabnya. Misalkan, sepulang sekolah anak langsung menaruh sepatu dirak sepatu, langsung katakana saja, Nah, kalau ditaruh di situ kan jadi rapi dan indah.
Bersikap tenang bila ada perbuatannya yang membuat kita jengkel, misalnya menumpahkan susu di atas meja. Memarahinya bisa membuatnya mencari alasan dan pembenaran, tapi suruhlah untuk mengambil lap lalu membersihkan tumpahan meja. Karena itu konsekuensi atas kelalaiannya.
Hindari terlalu memanjakan anak. Ingatlah bahwa masalah-masalah kecil pada anak yang sering kita selesaikan sendiri tidak akan membuatnya bertambah rasa tanggung jawabnya, padahal di belakang hari segudang masalah akan menanti mereka. Misalkan pada anak 5-6 tahun dengan selalu menyuapi, menatakan tas sekolah dan mainan, dan memakaikan baju.
Beritahukan tentang waktu dan jam. Meskipun anak-anak belum bisa melihat jam, tapi jika kita beritahu bahwa lima menit lagi harus mandi, atau sepuluh menit waktunya tidur, atau lima belas menit lagi menyudahi permainan. Dan itu juga berarti memberi konsekuensi pada anak untuk memilih. Jika tanpa pemberitahuan tiba-tiba kita memerintahkan mereka untuk tidur misalnya, bisa jadi mereka akan mengamuk karena tidak mau. Tapi dengan memberi kesepakatan waktu, jelas mereka akan menyadari konsekuensinya sendiri.
Buku-buku cerita dan kisah dapat juga membuat anak mempunyai gambaran bagaimana seharusnya rasa tanggung jawab itu dimiliki.
Menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak membutuhkan waktu dan bertahap. Tapi jika dilakukan dengan kuat dan tegas serta konsisten diterapkan, maka karakter tanggung jawab mudah-mudahan dapat ditumbuhkan selagi dini.
Dan bagaimanapun juga kelak anak-anak kita akan menjadi pemimpin, sehingga karakter tanggung jawab harus ia lekatkan dalam-dalam di kehidupannya. Lalu terlihatlah beberapa ciri yang bisa dilihat pada diri anak yang sudah terlatih mempunyai rasa tanggung jawab tersebut. Diantaranya adalah selalu mengerjakan pekerjaan atau tugas dengan cara terbaik, maksimal dan penuh semangat, tidak mudah menyalahkan orang lain atas kegagalan dan kesalahan dalam pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, menuntaskan pekerjaan dan tidak setengah-setengah berhenti di tengah jalan, dan membiasakan diri untuk selalu bersemangat dan tidak bermalasan.

Sabtu, 30 Juli 2016

Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain #WiseParenting


      Bayangkan jika di dekat kita ada seorang anak usia TK yang sudah pandai menirukan tokoh antagonis sinetron, misalnya dengan mendengus dan melirik dengan sinis kepada kita meskipun kita tidak mengenalnya. Tentunya kita sangat jengkel walaupun dia hanya seorang anak kecil yang mungkin melakukannya karena ketidakpahaman. Dan biasanya secara otomatis pikiran kita tertuju pada orangtuanya, yang bisa jadi tidak bisa menanamkan rasa penghargaan kepada anaknya.
Menghargai orang lain sebenarnya menghargai pada diri sendiri. Itu yang harus kita ingat dan tanamkan pada diri anak. Sebab jika kita ingin dihargai oleh orang lain, terlebih dahulu kita harus menghargai orang lain. Meskipun anak-anak usia dini masih dalam tahap belajar tentang cara menghargai dan menghormati orang lain, tetapi membangun rasa penghargaan pada orang lain sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Beberapa cara yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa menghargai orang lain adalah: pertama, latihlah anak-anak untuk berbicara yang baik, dengan bahasa dan tutur serta intonasi yang baik pula. Tunjukkan bagaimana cara berbicara yang sopan pada orang lain. Karena anak-anak yang sering mendengar teriakan, umpatan, cara bicara yang tidak sopan dari orang tuanya, secara otomatis akan menerapkan hal yang sama meski orang tuanya berusaha menunjukkan respect pada orang lain.
Kedua, bantulah anak-anak untuk bisa memecahkan masalah tanpa kekerasan. Ketika tengah menghadapi konflik, doronglah anak-anak untuk mengetahui apa sebenarnya masalah tersebut. Contohnya, jika adik (1,5 tahun) menyobek buku milik kakak (5 tahun) sehingga kakak menjadi marah, coba jelaskan masalah dengan mengatakan, Ibu tahu kakak marah, memang adik tidak seharusnya merobek buku kakak. Tapi kakak juga mengerti tahu kalau adik mungkin tidak sengaja menyobeknya karena itu dipikirnya makanan. Dengan mengetahui akar permasalahan, anak akan menjadi lebih menghargai orang lain dan tidak langsung menlakukan tindakan kekeeasan untuk mengatasi konflik.
Ketiga, ceritakan secara langsung tentang pentingnya menghormati orang lain dan terutama yang lebih tua karena memang itulah tuntunan akhlak dalam agama, juga sesuai dengan norma ketimuran kita. Ceritakan bagaimana kisah Nabi Muhammad yang menghormati semua orang. Karena Rasul juga pernah bersabda, Bukanlah termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati orang lain yang lebih tua di antara kita.
Menghormati dan menghargai pada orang yang lebih tua dan guru selayaknya sudah ditekankan sejak usia dini. Kita tidak ingin kehilangan jati diri sebagai muslim, karena dengan informasi yang mudah sekali diakses sekarang ini membuat anak-anak si peniru hebat itu dengan mudahnya menyerap segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma kepatutan ketimuran yang kita punya.
Al Ghazali telah mengatakan di Al-Ihya bahwasanya beliau menganjurkan anak-anak tidak dibiasakan meludah di majelisnya, mengeluarkan ingus, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan. Hendaknya anak-anak dibiasakan untuk mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih dewasa darinya berbicara, berdiri menghormati orang yang lebih tua di atasnya, meluaskan tempat duduk, duduk di hadapan orang yang lebih tua dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang kotor. Dan kesemuanya itu jelas berkenaan dengan menghormati orang lain yang berawal dari menghargai diri sendiri.
Sementara itu untuk membuat anak-anak bisa menghargai diri sendiri dapat dilakukan dengan cara:
Doronglah anak-anak untuk membangun identitas diri yang positif yang fokus pada integritas dan kemampuan serta bakatnya.
Tekankan bahwa menghargai orang lain itu harus dilakukan setiap saat di dalam kehidupan sehari-hari.
Bekerjasamalah dengan anak untuk dapat membangun talenta dan bakatnya sehingga anak merasa dirinya adalah pribadi yang unik dan pantas dihargai.
Bantulah anak untuk mengambil keputusan memilih akhlak dan adab yang bagus, jelaskan tujuannya supaya hal itu bisa tertanam di hatinya.
Ajarkan anak meminta maaf, jika sudah mengidentifikasi konflik dan anak memang bersalah, maka mengajari meminta maaf terlebih dahulu akan membuatnya mampu menghargai diri sendiri dengan mampu berjiwa besar.
Berikan penghargaan yang tulus jika anak melakukan penghormatan pada orang lain. Misalnya, Wah, kakak sudah salim sama nenek, itu bagus!
Jangan berpihak atau langsung menghukum, apabila suatu hal ada konflik, maka jangan berpihak pada siapapun. Dudukkan masalah dengan benar. Itu akan membuat anak merasa bahwa dirinya dan orang lain juga punyak hak dan kesempatan yang sama.
Pada akhirnya, karakter menghargai orang lain dan diri sendiri itu akan melekat kuat di benak anak jika kita juga menghargai dan menghormati mereka, begitu juga karya-karya yang mereka buat, pekerjaan-pekerjaan baik yang sudah mereka lakukan, dan ucapan-ucapan santun yang mereka tuturkan.

Selasa, 07 Juni 2016

Hentikan Kebohongan #WiseParenting


Kejujuran adalah modal utama dalam hidup, demikian pepatah berkata. Jika kita bekali anak dengan kejujuran, maka kita sudah menambahkan satu lagi modal yang akan digunakannya untuk mengarungi kehidupan. Untuk itulah kebohongan sudah mulai dihentikan sedari dini, ketika mereka sudah mencoba untuk bisa memanipulasi keadaan dan mulai bisa berpikir untuk mengemas ucapan.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa usia 2-4 tahun anak biasanya belum bisa membedakan hayalan dan kenyataan. Mereka sering melebih-lebihkan ucapannya dan itu sebagai bentuk perkembangan imajinasi yang wajar. Mereka juga mengatakan ssesuatu yang bukan sebenarnya untuk lebih dapat diterima keberadaannya dalam lingkungan sosial, misalnya dalam kelompok bermain dengan teman-temannya sebaya. Misalnya dengan mengatakan, Aku kemarin pergi ke kutub memeluk beruang salju.
Sementara itu seiring bertambahnya usia, anak-anak semakin pintar untuk belajar dari lingkungan, media, dan juga dari orang-orang terdekatnya. Anak-anak melakukan itu untuk berbagai macam alasan. Terutama untuk mengelak dari kesalahan dan agar selamat dari hukuman.
Dan inilah bentuk-bentuk kebohongan yang seringkali ditemukan pada anak:
Penyangkalan sederhana
Misalnya : anak mengaku sudah minum susu padahal belum. Anak mengaku sudah mandi padahal belum mandi. Untuk kasus seperti itu  hendaknya kita mengecek betul apakah mereka sudah minum susu atau betul, karena bisa diketahui dengan pasti. Dan bila mereka berbohong, tersenyumlah dan bercandalah dengan mereka supaya tidak ada perasaan yang menekan bagi anak. Misalkan, Ibu mencium susu yang tumpah. Atau, Aduh, bau badan siapa yang tidak enak ini? Dan cobalah untuk mengoreksi keterangan anak-anak supaya mereka mengakui kebohongannya. Karena di situlah dia akan berkata sebenarnya.
2.   Mengurangi atau melebihkan cerita
Misalnya: anak menceritakan kehebatan ayah temannya secara berlebihan, Ayahnya Rudi bisa membuat robot sebesar rumah dan robot itu bisa bicara. Padahal, ibu gurunya hanya membuat robot-robotan dan yang berbicara adalah gurunya. Coba koreksi lagi perkataannya, dan katakan, Coba sih, ibu akan menelepon ayahnya Rudi. Kemudian usahakan dia mau mengakui bahwa dia hanya melebih-lebihkan ucapannya.
3.   Terlihat lebih hebat
Misalnya: anak bercerita kepada temannya bahwa ia sudah sering naik pesawat terbang ke luar negeri padahal ia belum pernah melakukannya. Jika kita sendiri yang mendengar hal tersebut, katakan saja bahwa suatu saat mudah-mudahan kita bisa naik pesawat sekeluarga. Tapi anak harus bicara jujur pada temannya bahwa dia saat ini belum pernah melakukannya. Itu terdengar lebih terhormat dari pada berbohong.
4.   Membuat tuduhan palsu karena takut disalahkan
Misalnya: anak memecahkan gelas tetapi ia mengatakan bahwa yang memecahkan gelas itu adalah adiknya. Membuat tuduhan palsu adalah kebohongan yang amat serius karena bisa mengakibatkan orang lain tertuduh dan terhukum. Untuk itu bicaralah dengan tegas bahwa kesalahan yang kita perbuat harus kita pertanggungjawabkan juga. Bantulah untuk sering berempati pada orang lain, atau merasakan berada di pihak tertuduh. Sebab melempar kesalahan juga berarti melempar tanggung jawab, sehingga perbuatan ini harus dianggap serius untuk ditindaklanjuti.
3.   Merasa Tidak Punya Pilihan
Pada pola asuh yang kontrolnya terlalu dominan kuat atau orangtua otoriter, anak selalu berpikir kesalahan adalah sesuatu yang tidak terampuni. Ketika melakukan kesalahan, anak pun menjadi selalu dibayangi ketakutan akan risiko kesalahan dan hukuman. Jika ini yang terjadi, maka kita yang patut instrospeksi diri, jangan-jangan kebohongan anak selama ini karena kita yang sendiri yang menciptakannya.
4.   Tidak Ingin Kecewa
Bila orangtua senantiasa menanamkan ekspektasi yang tinggi, anak bisa saja berbohong ketika bereaksi terhadap masalah semata-mata karena tak ingin orangtuanya kecewa. Maka tidaklah patut bagi kita untuk memaksa anak harus sesuai dengan keinginan dan harapan yang membebani mereka.
Jika ternyata anak terlalu sering berbohong, maka harus diambil tindakan disiplin yang tegas dari orang tua. (Bab tentang disiplin akan dijelaskan pada bab berikutnya).
Meskipun kadang karena sudah terlatihnya berbohong kita kesulitan untuk mendeteksi kebenarannya. Tetapi ada yang menarik dari Development of lying to conceal a transgression:Childrens control of expressive behaviour during verbal deception, sebuah jurnal penelitian yang dilakukan Victoria T. and K. Lee dengan melakukan eksperimen pada anak usia 3-7 tahun dalam perilaku berbohong. Karena rupanya agak susah bagi orang dewasa untuk membedakan suatu kebohongan dari ekspresi wajah anak-anak, semuanya telihat innocent. Walaupun hasil gabungan penelitian berdasarkan usia anak menyatakan bahwa anakanak dibawah usia 8 tahun tidak sepenuhnya terampil untuk berbohong secara lisan maupun lewat ekspresinya.
Namun demikian, ada perlunya juga untuk mengenali lebih jauh tentang gesture (bahasa tubuh) yang biasanya dilakukan saat anak usia 5 ke atas berbohong, berikut ini adalah bahasa tubuh yang mengindikasikan kebohongan yang semoga salah satunya dapat mendekati kebenarannya.
1.  Tangan menutup mulut secara spontan, bagaimanapun juga, kebohongan merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan oleh anak yang sudah mampu berpikir jernih. Karenanya, meskipun berbohong acap kali dilakukan, upaya menutupinya biasa segera dilakukan. Dan gerakan spontan menutup mulut dengan kedua tangan adalah merupakan ekspresi yang paling mudah untuk menutupinya.
2.  Jari tangan menyentuh mulut sambil bicara, karena sesuatu alasan, kebohongan akhirnya terjadi dan dilakukan secara sadar. Agar hal tersebut tidak dikenali orang lain, maka gerakan spontan untuk menyamarkannya pun segera dilakukan. Seorang dewasa atau anak-anak akan bereaksi menyentuh mulutnya dengan jari tangan, setelah berita bohong sedang dituturkannya atau selesai diucapkan.
3.  Tangan menyentuh hidung, supaya segala pembicaraanya dipercaya orang lain atau guna mengelabui lawan bicaranya, agar tidak bisa mengenali reaksi mulut dan wajahnya yang telah berbohong, biasanya seseorang akan bereaksi menyentuh hidungnya sendiri manakala ia selesai berbicara.
4.  Usapan tangan pada mata, getaran-getaran halus konon akan bisa dirasakan seseorang yang tengah berbohong pada bagian-bagian organ tubuh tertentu. Semakin banyak kebohongan yang dituturkan, maka akan semakin keras juga getaran yang dirasakannya. Dan organ mata merupakan bagian yang paling peka yang akan bereaksi manakala kebohongan itu dituturkannya. Karenanya, usapan-usapan halus terkadang suka dilakukan oleh seseorang yang tengah berbohong itu.
5.  Pandangan mata melihat ke bawah, karena adanya semacam desakan penolakan dari perasaan batin yang sebenarnya lebih menghendaki berkata jujur, diantaranya ada yang bereaksi denga tidak mau secara langsung memandang lawan bicaranya dan memandang ke bawah.
6. Pandangan ke langit-langit, perasaan yang berkecamuk saat berbohong juga akan tidak mengenakkan. Dan jika dipaksakan biasanya akan bereaksi dengan lebih banyak menghindari pandangan mata orang yang bertanya pada anak. sehingga ekspresi yang dilakukan biasanya akan lebih suka memandang ke atas.
7. Pandangan ke sudut kiri, karena otak kanan berfungsi sebagai pembentuk imajinasi dan hayalan, maka anak yang berbohong kemungkinan melirik ke sudut sebelah kiri karena otaknya kanannya sedang bekerja dengan serius.
8. Sentuhan pada daun telinga, saat anak menyampaikan sesuatu atau menerima informasi sungguh-sungguh tentang sesuatu, daun telinga merupakan salah satu organ yang digambarkan dapat paling cepat bereaksi. Begitupun saat berbohong. Getaran dan perasaan seperti ada hawa panas yang menyengat, terkadang dapat terasa mengusiknya. Sehingga sebuah sentuhan atau gerakan halus terkadang mesti dilakukan oleh seseorang atau anak yang tengah berbohong.
9.   Menggaruk leher, disamping mata dan telinga yang seketika terasa gatal dan panas, saat mulut meluncurkan kalimat-kalimat bohong, bagian leher juga terkadang bereaksi yang sama. Terutama jika kalimat dustanya benar-benar ingin dipercayai oleh lawan bicaranya. Maka garukan tidak gatal pun spontan dilakukan oleh sebelah tangannya.
10. Menarik-narik kerah baju atau bagian baju lain, tingkah laku dan ekspresi tidak menentu, terkadang sering dilakukan oleh seseorang atau anak yang tengah berbohong. Entah ungkapan reaksi ketidaksetujuan atau upaya menutupinya agar tidak dikenali orang, terkadang orang-orang yang menyadari dirinya telah berbohong suka melakukannya. Terjadinya getaran-getaran disekitar leher dan dahi. Dan pada saat seseorang melakukan kebohongan, maka ia tak bisa mencegah timbulnya tingkah laku dan ekspresi yang tidak menentu. Seperti menarik-narik kerah baju, mengusap-usap bagian leher atau berupaya memasukkan hawa-hawa segar ke bagian leher, yang konon sangat dirasakan panasnya saat itu.
11. Menyembunyikan tangan ke belakang, ibarat sudah melakukan kesalahan besar, reaksi-reaksi samar dan spontan akan dicoba dilakukan oleh seseorang atau anak yang sudah terlanjur melakukan kebohongan itu. Dan agar kebohongan itu tidak dikenali, maka upaya menyembunyikannyapun pasti akan dilakukan dengan serapi mungkin. Seperti dengan mencoba menyembunyikan kedua tangannya ke belakang. Dan seseorang atau anak yang telah berbohong biasanya juga berani meluncurkan kalimat-kalimat sumpah yang intinya seolah hendak menunjukkan kejujurannya. Ini pun harus diwaspadai oleh kita.
Pada dasarnya kita semua tidak menginginkan buah hati tercinta terbiasa melakukan ketidakjujuran. Dan tindakan preventif seperti cara memupuk kejujuran seperti yang sudah dipaparkan di atas jauh lebih baik dari pada harus mengenali kebohongan anak dengan tiada henti. Wallahualam.

Kamis, 02 Juni 2016

Jujur dan Rasa Keadilan #WiseParenting


Secara sederhana jujur dapat diartikan dapat dipercaya oleh diri sendiri maupun orang lain, tulus, tidak berbohong, dan tidak curang. Dan anak-anak usia dini biasanya jujur serta apa adanya. Tetapi kejujuran harus terus dipupuk supaya tidak luntur seiring berjalannya waktu.
Sementara itu adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak. Dan di mata jujur anak-anak, mereka menginginkan persamaan yang adil dengan saudara dan teman-temannya. Rasa keadilan juga sebenarnya sudah ada pada anak usia dini. Tetap senada dengan kejujuran, rasa keadilan juga harus dipupuk supaya tidak luntur di tengah jalan.
Apa yang dapat kita lakukan untuk terus memupuk kejujuran dan rasa keadilan? Jawaban yang pertama tentu teladan kita. Apabila kita berjanji pada anak, maka tepatilah. Kalaupun tidak, dipastikan si anak akan merengek sepanjang hari agar tuntutannya dapat dikabulkan segera. Atau sering kali kita mengiming-iming sesuatu agar anak menuruti perintah kita, lalu kita abaikan iming-iming tersebut setelah anak melakukan apa yang kita inginkan, maka sebenarnya pelajaran pertama berbohong dari kita sudah mereka rekam. Bahkan Rasulullah menegur orang yang berkata akan memberi sesuatu agar anak mau menghampirinya padahal dia tidak akan memberikan apa-apa. Diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Amir yang menceritakan masa kecilnya, bahwa ibunya memanggilnya, sedang Rasulullah berada di rumahnya. Ibunya berkata, Kemarilah, aku akan memberi sesuatu! Nabi Saw pun bersabda, Ingatlah, jika engkau tidak memberinya suatu apa pun, niscaya akan dicatatkan sekali dusta terhadapmu.
Kedua, diskusikanlah kepada anak tentang kejujuran. Karena tidak semua yang kita anggap apa adanya itu harus diberitahukan pada orang lain. Misalnya saja, tak perlu harus jujur mengatakan, Om kok gendut sekali sih? atau Mbak ini jerawatnya banyak. Itu memang jujur tapi dapat melukai perasaan orang lain.
Ketiga, biarkan anak-anak bermain permainan tradisional dengan temannya. Mengapa permainan tradisional? Karena permainan tradisional seperti petak umpet, suit, gobaksodor, dan lainnya yang bisa dilakukan anak usia 5-6 tahun mengandung unsur kejujuran yang bisa mereka terapkan sendiri. Juga keadilan yang bisa mereka tentukan dan sepakati sendiri.
Keempat, cobalah memberi kepercayaan kepada anak. Misalkan, berikan kepercayaan pada anak usia 4-6 tahun untuk menghantarkan makanan pada tetangga tanpa curiga bahwa anak akan memakannya atau meninggalkannya di tengah jalan. Kejujuran memang berkorelasi dengan kepercayaan. Dalam hubungan apapun, kejujuran dan kepercayaan sulit dipisahkan. Sebuah kejujuran dapat menimbulkan rasa kepercayaan, demikian pula kepercayaan biasanya lahir dari adanya kejujuran.
Kelima, hargailah kejujuran anak. Contohnya saat Rani (5 tahun) menumpahkan botol minuman di dalam tasnya sewaktu di sekolah, ia pun bilang kepada ibunya. Ibu yang bijak tidak perlu panik dan langsung naik pitam karena semua buku dan peralatan sekolah di dalam tas menjadi basah. Bersikaplah tenang dan wajar. Hargai kejujurannya. Karena masih ada cara untuk dapat mengeringkan tas dan semua isinya. Sebab jika ibu marah, mungkin Rani akan belajar untuk mencari alasan-alasan lain supaya dia terbebas dari hukuman dan kemarahan ibunya. Dia bisa menuduh temannya yang melakukan perbuatan itu hingga botolnya tumpah, atau mengatakan bu guru di sekolah tidak tanggap dengan keadaan tasnya yang basah.
Keenam, bersikap adil terhadap semua anak. Bersikap adil tidak harus menyamaratakan semuanya. Karena kebutuhan adik dan kakak selalu berbeda. Sehingga perlu penjelasan baik kepada adik maupun kakak tentang itu.
Itulah beberapa cara untuk terus memupuk kejujuran dan rasa keadilan supaya tetap subur dan tidak berubah pada diri anak usia dini. Walaupun tidak kita pungkiri, dalam tahap perkembangan anak usia diri (2-4 tahun) bahkan sampai 6 tahun ada yang masih belum bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Sehingga mereka akan sering mengatakan suatu hayalan, tapi tentu ini tidak bisa disebut sebagai kebohongan karena memang masih sesuai dengan tahap perkembangan anak yang tengah mengeksplor imajinasinya. Misalkan saja, anak-anak 3 tahun yang berbincang dengan temannya berkata, Aku bisa mengendarai pesawat hingga ke angkasa, sedangkan temannya tak mau kalah, Aku bisa naik becak menuju ke bulan.

Senin, 30 Mei 2016

Empati Menimbulkan Peduli #WiseParenting


Empati Menimbulkan Peduli

            Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Memposisikan keadaan ini pada anak jelas bukah sesuatu yang mudah sebab seperti diketahui jika pada masa perkembangan anak-anak usia dini lebih memiliki self-egocentric (rasa keegoan) yang lebih tinggi. Tetapi bukan berarti bahwa empati tidak bisa dikenalkan dan diajarkan dengan kegiatan yang sederhana untuk anak.
            Sebenarnya sejak bayi rasa empati itu sudah muncul dengan sendirinya. Bayi yang tadinya diam akan ikut menangis ketika mendengar tangisan dari bayi yang lain. Dan sebaliknya, bayi juga akan ikut tersenyum dan tergelak apabila ada orang didekatnya yang mencoba bercanda dan tertawa kepadanya.
            Sementara itu anak-anak yang berusia tiga tahun akan menunjukkan perasaannya dengan memeluk teman mereka, atau orang tua mereka jika orang-orang yang dekat dengan kehidupannya itu terlihat murung dan sedih. Bahkan seorang anak yang empatinya sudah terasah malah akan membimbingnya untuk selalu berperilaku dan bertindak secara positif. Mereka akan menimbang-nimbang perasaannya, apakah aksi atau kegiatan yang dilakukannya tersebut akan membuat teman atau orang lain sedih ataukah bahagia. Mereka paham jika berbuat sesuatu yang salah akan membuat orang lain menjadi menderita atau tidak bahagia.
            Kita dapat membimbing rasa empati anak dengan cara membantu mengenali perasaan orang lain. Misalkan ada teman yang menangis karena terjatuh. Maka tanyakan pada anak, “Mengapa Aldo menangis?”, “Kalau kamu yang terjatuh bagaimana perasaanmu?”, “Sakit, kan?” Atau jika anak kita merebut mainan temannya, kita bisa menanyakan, “Seandainya itu mainanmu, mau tidak direbut sama temanmu?”
            Namun tentu saja, membimbing anak untuk mengetahui perasaan orang lain tetap dengan keadaan tenang dan perhatian. Jika dalam keadaan marah atau menghakimi, anak-anak juga tidak akan membuka hatinya. Karena mereka akan pula beralasan bahwa apa yang dilakukannya itu benar. Misalnya saja anak bisa menjawab, “Salahnya sendiri, Aldo lari-lari sampai kesandung batu.” Atau, “Habis dia dulu juga pernah merebut mainanku.”
            Selain membantu mengenali perasaan orang lain, kita dapat juga melakukan hal-hal sebagai berikut untuk membuat anak bisa berempati pada orang lain.
·         Membaca buku cerita dan menanyakan keadaan-keadaan tokoh yang ada di cerita tersebut. Misalnya saja mengapa si A bersedih, mengapa si B gembira, dan beritahukan bahwa perasaan-perasaan tersebut juga bisa dimiliki oleh anak kita.
·         Tayangan di media tentang bencana alam, seperti gunung meletus dan gempa bumi, serta anak-anak Palestina dengan segala gambaran tentang pengungsinya bisa membangkitkan empati anak apabila kita menjelaskannya.
·         Menjenguk teman anak atau orang yang sakit di rumahnya juga akan membuat anak merasa terpancing untuk ikut merasakan perasaan si penderita.
·         Bila anak bercerita kalau dirinya diperlakukan tidak menyenangkan oleh temannya, misalkan dia merasa didorong hingga terjatuh, katakan bahwa temannya itu mungkin tidak sengaja melakukannya, “Kadang-kadang adik juga secara tidak sengaja menjatuhkan gelas, kan?” Itu akan membuat anak berpikiran positif dan tidak menyimpan bibit dendam dan permusuhan pada orang lain.
·         Terbukalah pada perbedaan. Jika anak menanyakan mengapa ada orang berkulit hitam atau berkulit putih, katakan jika Allah Yang Maha Kuasa itu berkehendak menciptakan berbagai ciptaan yang dikehendaki-Nya, selanjutnya sebagai manusia kita tidak bisa membeda-bedakan antara teman satu dan yang lainnya.
            Empati atau kesediaan untuk memahami perasaan orang lain biasanya akan bermuara pada aksi kepedulian, baik berupa ucapan maupun aksi kegiatan. Dan rasa empati tersebut adalah perasaan yang bersumber dari hati yang jernih. Sedangkan anak-anak adalah pemilik hati yang jernih, maka sebenarnya yang mencemarinya adalah lingkungan sekitarnya. Ah, semoga saja bukan kita, orangtuanya ini.
            Sebuah kisah tentang empati dan kepedulian dapat kita rasakan di sini, pada sebuah cuplikan hidup Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah Saw. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa ketika Hasan dan Husen sakit, Rasulullah Saw berkata, “Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau engkau bernadzar untuk (kesembuhan) anakmu berdua!”. Maka bernadzarlah Ali dan Fatimah (orangtua Hasan dan Husen), juga Fidhah (pembantu mereka), bahwa mereka akan berpuasa tiga hari berturut-turut jika Allah Swt menyembuhkan kedua anaknya. Saat menjelang berpuasa, Ali meminjam 3 sha’ tepung gandum dari Syam’un Khaibari, seorang Yahudi. Kemudian Fatimah memasak satu sha’ gandum menjadi lima potong roti untuk lima orang anggota keluarganya. Ketika roti itu sudah terhidang di hadapan mereka menjelang berbuka puasa, seorang pengemis berhenti di depan pintu rumah Ali, “Assalamualaikum, saya ini seorang muslim yang miskin. Berilah saya makanan, mudah-mudahan Allah Swt memberikan makanan pada kalian dari hidangan surga.” Lalu Ali berikan makanan buka puasanya untuk mengutamakan pengemis itu. Malam itu mereka tidur dengan tidak makan apa-apa selain minum air. Kemudian mereka melanjutkan puasa (untuk hari kedua). Sore harinya ketika mereka menyiapkan makanan untuk berbuka, seorang anak yatim berhenti di depan rumah. Anak yatim itu menyampaikan keluhannya yang sama dengan seorang pengemis di hari pertama. Maka Ali memberikan hidangan berbuka puasa mereka untuk mengutamakan anak yatim yang menunggu di depan pintu. Selanjutnya pada hari yang ketiga, saat menjelang berbuka puasa, datang tawanan di depan pintu. Dia menyampaikan keluhannya seperti seorang pengemis dan anak yatim pada hari sebelumnya. Maka keluarga Ali memberikan makanan berbuka puasa untuk mengutamakan tawanan tersebut. Setelah selesai puasa tiga hari, Ali membawa Hasan dan Husen menemui Rasulullah Saw. Beliau melihat mereka menggigil seperti anak ayam karena lapar. Nabi bersabda, “Alangkah pedihnya aku melihat kalian.” Nabi kemudian mengajak menantu dan kedua cucunya kembali ke rumah mereka. Beliau melihat Fatimah di mihrabnya. Perutnya melekat pada punggungnya dan matanya cekung. Rasul yang mulia sangat sedih melihatnya. Saat itulah Malaikat Jibril turun, ia berkata, “Ambillah Muhammad.” Kemudian Jibril membawa pesan wahyu dari Allah Swt kepada nabi untuk menghormati perilaku keluarga nabi yang indah dengan membacakan Surat Al-Insaan ayat 5-11.
            Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Q.S Al-Insaan (76): 5-11
            Mengembangkan empati sejalan pula dengan mengenalkan keikhlasan pada anak. Konsep ikhlas memang kadang belum dimengerti oleh anak. Mereka bisa saja beranggapan bahwa jika memberi sesuatu akan mendapat imbalan sesuatu pula. Seperti jika memberi uang pada penjual, maka mereka akan diberi jajan. Jika memberi adik permen, maka akan mendapat pujian dari ibu. Tapi jika keikhlasan dimaknai melakukan sesuatu tanpa pamrih dan hanya karena Allah semata, lalu dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Insayaallah anak lama kelamaan akan mengerti juga. Misalnya, “Kalau adik memberikan sumbangan di kotak amal, nanti Allah sendiri yang akan melihat. Allah juga bisa mengetahui yang ada di dalam hati.”
            Namun kadang kala muncul kendala-kendala saat mengenalkan empati pada anak. Kendala tersebut harus diidentifikasi dan diberikan solusi supaya karakter kepedulian itu melekat dan tidak hanya sebuah nasehat dan anjuran yang masuk di telinga tapi tidak menancap di dada. Kendala-kendala itu antara lain:
·   Waktu yang tidak tepat saat menyampaikan. Jika anak masih dalam keadaan marah dan jengkel, biarkan emosi-emosi negatif itu pergi terlebih dahulu sebelum mengenalkan empati dan rasa kepedulian. Waktu yang tepat adalah saat anak dalam emosi yang tenang dan suasana yang nyaman. Sebelum tidur dan sesudah makan bersama adalah waktu yang tepat untuk menceritakan kisah.
·   Prasangka buruk. Jika kita sering mempunyai prasangka buruk pada orang lain dan sempat terdengar oleh anak, bisa jadi anak akan merekamnya dan menjadikan berprasangka buruk pada orang lain itu wajar adanya. Apalagi berprasangka buruk pada anak sendiri. Jadi sebisa mungkin tidak membicarakan berbagai prasangka pada orang lain terhadap anak.

·   Kesombongan. Rasa percaya diri tidak sama dengan kesombongan. Karena sombong itu merendahkan orang lain dan tidak mau menerima kebenaran. Rasa sombong biasa terekam anak dari sekelilingnya. Bisa juga dari sinetron yang ditonton orangtuanya. Oleh karenanya, hindari kesombongan atau sesuatu yang dapat menjadi contoh kesombongan karena bisa menghalangi kepedulian.

Jumat, 13 Mei 2016

Metode Menumbuhkan Karakter Anak #WiseParenting


Metode Menumbuhkan Karakter Anak

Untuk menumbuhkan karakter anak, diperlukan adanya cara-cara tertentu agar apa yang diharapkan dapat mencapai sasaran. Dalam bukunya Pendidikan Karakter dalam Perspektif Sipiritual, A. Muwahid Saleh menjabarkan tujuh metode dalam membangun karakter.
Melalui keteladanan
Ini adalah metode paling utama dan paling kuat. Orang tua hendaknya memulai dari hal yang sepele dan paling kecil. Seperti halnya membentuk susunan puzzle yang besar, maka hal-hal yang nampak kecil dan remeh jika tersusun rapi akan membentuk suatu bentuk yang lengkap dan sempurna.
Misalnya saja dengan membuang sampah pada tempatnya dimana saja berada akan membuat anak meniru kita. Banyak anak yang dengan santainya membuang bungkus permen begitu membukanya, tapi jika mereka diberi contoh membuang bungkus makanan di tempatnya (tidak hanya di rumah), bukan tidak mungkin mereka akan menahan diri untuk tidak segera membuang sampah jika di sekelilingnya belum ada tempat sampah. Walau terkesan remeh, membuang sampah pada tempatnya ini memupuk rasa tanggung jawab yang besar pada anak.
Salat selalu tepat waktu begitu adzan bergema juga contoh kecil yang bisa dilakukan orang tua. Sebab teladan tersebut selain ingin menyampaikan pesan agar mendekatkan anak untuk ingat dengan penciptanya, juga bermakna kedisiplinan dalam waktu.
Melalui simulasi praktek (experiential Learning)
Informasi akan diterima dalam beberapa tingkat prosentase di otak. Terdapat enam jalur informasi tersebut sampai di otak yaitu dengan melihat, mendengar, mengecap, menyentuh, membau, dan melakukan. Karena itu cara melakukan sendiri agaknya akan tersimpan lebih lama di memori.
Begitu juga dengan menanamkan karakter, jika anak melakukan langsung lewat pengalamannya sendiri akan lebih berdampak nantinya. Misalnya saja mengajak anak ke panti asuhan untuk menyalurkan sumbangan dengan didahului penjelasan bahwa kegiatan itu semata-mata lillahitaala. Atau mendorong mereka untuk mau belanja di warung terdekat supaya melatih keberanian. Bisa juga dengan bermain peran dengan keluarga sehingga anak mengerti dan paham seandainya mereka menjadi orang lain untuk melatih empati.
Menggunakan ikon dan afirmasi (menempel dan menggantung)
Mengenalkan sikap positif dapat dilakukan pula dengan ikon dan tulisan yang terdapat di dekeliling anak. Bebarapa tanda dan tulisan yang ditempel dan digantungkan di beberapa tempat atau di rumah kita sendiri akan menjadi semacam pengingat bagi anak untuk lebih disiplin dan menghargai orang lain.
Misalnya saja gambar tangan yang dicuci dengan sabun yang ditempel di tempat untuk mencuci tangan. Mengenalkan isyarat dilarang masuk di jalan yang kemudian harus dihindari. Atau tulisan salam di pintu rumah supaya mengingatkan mereka selalu mengucap salam di depan pintu semua orang.
Menggunakan kekuatan pengulangan (Repeat Power)
Mengucapkan secara berulang-ulang sifat atau nilai positif akan membuat anak merasa bahwa memang seperti itulah seharusnya mereka bersikap dan bertindak.
Misalnya saja dengan mengatakan, Kakak pasti sayang sama adik. Jika diucapkan berulang-ulang oleh orang tua akan meminimalisir rasa iri, perseteruan, dan tidak mau berbagi. Karena kakak merasa bahwa dirinya memang sayang kepada adiknya.
Menggunakan 99 sifat utama Allah (Asmaul Husna)
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al Asmaul Husna (nama-nama yang baik). Q.S Thoha (20): 8.   Asmaul Husna atau sifat utama Allah yang 99 akan selalu mengingatkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut. Kemudian orang tua dapat menginternalisasi sifat tersebut dalam perangai dan kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana Rahman dan Rahimnya Allah Swt.
Menggunakan kesepakatan bersama
Kesepakan untuk nilai-nilai yang kita harapkan dapat dilakukan dengan langsung mengajak anak berembuk dan berdiskusi. Karena jika anak terlibat dengan aturan yang dia buat dan sepakati sendiri akan memunculkan rasa tanggung jawab besar untuk melaksanakannya.
Misalnya saja menepati jam main, jam belajar, dan jam tidur. Selalu jujur dan berterus terang, serta mandiri dan tidak gampang menyerah jika ada suatu masalah yang menerpa mereka.
Melalui penggunaan metafora
Metafora banyak terdapat dalam cerita dan kisah-kisah. Dan anak-anak akan selalu menyenangi cerita dan kisah dari buku-buku, terlebih buku bergambar. Melalui fabel dan penokohan, anak akan mengambil moral dan pesan positif dalam buku yang mereka baca atau dibacakan oleh orang tua.
Untuk itu sediakan buku-buku penuh moral yang mengandung karakter kuat. Sehingga anak dapat mengingat sesuatu yang menyenangkan dan bermakna. Sebab informasi atau pelajaran lebih terserap lama jika secara emosional mereka juga menyukainya.

Selasa, 03 Mei 2016

Mereduksi Perilakù Tidak Menyenangkan pada Anak#WiseParenting


Mereduksi Perilaku Tidak Menyenangkan

Kita selalu berharap agar hubungan dengan anak selalu mesra dan penuh rasa pengertian dan saling menghargai. Tapi selalu saja tidak bisa kita hindari adanya perilaku anak yang kadang tidak menyenangkan dan membuat kita segera mengambil tindakan. Mengapa anak-anak melakukan hal seperti itu, mari kita lihat beberapa penyebabnya.
Kesulitan komunikasi.
Ratih (2,5 tahun) mendadak berteriak dan membuang makanan yang baru saja diberikan oleh ibunya. Ibu terperanjat karena makanan yang baru diberikannya pada Ratih itu adalah kue yang paling disukai anak gadisnya. Bagaimana bisa Ratih langsung membuangnya ke lantai?
Ibu Ratih tidak panik atau langsung memarahi Ratih. Tapi diangkatnya kue dari lantai dan diamati sekelilingnya. Rupanya ada beberapa semut yang menempel di kue tersebut. Ibu Ratih lalu menanyakan pada anaknya, apakah benar dia melempar kue tersebut karena ada semut-semut yang menempel. Ratih lalu mengangguk.
Ibu yang bijak tidak langsung melakukan aksi baik verbal maupun tindakan karena anaknya menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan. Identifikasi dahulu masalahnya, baru kemudian mencari solusi agar hal serupa tidak terjadi atau dapat dikurangi.
Dari analisa cerita di atas dapat disimpulkan bahwa Ratih mempunyai kesulitan berkomunikasi. Sehingga apa yang menurutnya benar dia lakukan langsung dikerjakannya, yaitu dengan berteriak dan membuang makanan ke lantai. Padahal seharusnya dia bisa bilang ke ibunya ada semut-semut yang tidak ia inginkan berjalan-jalan di kuenya.
Anak dengan kesulitan berkomunikasi akan  langsung mengekspresikan keinginannya. Jadi orang tua mengajari untuk mengendalikan emosi dan meminta anak untuk memanggil orang tua jika ada sesuatu yang tidak dikehendaki anak.
Memarahi anak akan membuatnya semakin mendapat kesulitan dalam berkomunikasi dan semakin membuatnya tidak bisa mengatur emosi karena mendapat contoh seperti itu dari orang tuanya.
Jika kesulitan berkomunikasi semakin memburuk pada usia-usia selanjutnya, ada baiknya untuk mengajak anak ke therapist wicara bila diperlukan.
Faktor lingkungan
Andi (1 tahun) tanpa sebab menangis sejadi-jadinya saat tiba di acara pernikahan. Ini membuat orang tuanya bingung karena Andi biasa tenang bila diajak ke mal atau plaza. Kejadian itu juga membuat orang tua gusar karena mereka berada dalam pandangan banyak mata yang mengitarinya.
Setelah diajak keluar dari area pernikahan, barulah Andi diam dan tak lagi menangis seperti saat di acara pernikahan. Rupanya Andi tidak menyukai keramaian yang terlalu, dengan musik acara pernikahan yang terlampau keras dan banyak manusia di dalamnya yang berlalu-lalang.
Faktor lingkungan bisa membuat anak berubah perangainya. Bisa jadi karena tidak suka panas, kebisingan, atau udara yang terlalu dingin. Anak-anak yang sensitif seperti ini juga belum bisa berbicara secara langsung pada orang tua. Sehingga bila sudah diidentifikasi penyebabnya, orang tua bisa menyiapkan segala sesuatunya. Misalkan membawa kipas atau pakaian tipis bila anak sensitif terhadap panas, atau tidak lama-lama berada di keramaian jika anak sensitif terhadap suara.
Mencari perhatian
Saat ada tamu berkunjung, Rina (3 tahun) menukar minuman yang ada di gelas tamu dengan minuman miliknya. Hal ini tentu membuat orang tua jengkel terhadap Rina. Mereka serasa mendapat cap sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Apalagi tamunya adalah kepala desa, orang yang paling dihormati di wilayah mereka.
Si pencari perhatian biasanya sengaja menunjukkan perilaku mereka saat ada tamu atau orang lain di rumah, biasanya juga di keramaian, atau rumah orang laian, bahkan di sekolah.
Jangan hiraukan anak yang mencoba mencari perhatian dari orang tua. Karena semakin ditanggapi, semakin kelakuannya menjadi-jadi. Sebab mereka mengira bahwa kehadiran mereka sudah mencuri perhatian banyak orang. Tapi jika tidak ditanggapi, biasanya mereka akan berhenti sendiri.
Sebenarnya anak yang mencari perhatian juga merupakan bentuk komunikasi. Mereka melakukannya karena kurangnya perhatian dan kepedulian orang tua di luar kejadian yang mereka lakukan. Oleh karenanya, berilah kepedulian saat mereka tidak sedang ingin mencari perhatian. Berilah pengertian bahwa tamu adalah orang yang patut dihormati. Dan berikan kepastian bahwa orang tua akan lebih memerhatikan atau peduli pada anak.
Jika penyebab perilaku anak yang tidak menyenangkan bisa diidentifikasi, selanjutnya orang tualah yang bisa mereduksi perilaku tersebut.

Jumat, 29 April 2016

Beri Pilihan Langsung pada Anak #WiseParenting


Beri Pilihan Langsung pada Anak

       Sesering mungkin berilah kesempatan memilih pada anak untuk dua buah obyek atau dua kegiatan positif yang menarik. Cara ini akan membuat anak-anak memiliki kepercayaan diri untuk memilih pilihan yang dia sukai, sekaligus memberikan pengalaman dalam memilih sesuatu tanpa harus selalu didikte orang tua.
Pertanyaan yang sebaiknya dilakukan dalam memberi kesempatan untuk memilih yaitu, Ani, mau memakai baju yang merah atau yang biru? maka dia kan menjawab salah satunya. Tentu melalui proses berpikirnya dengan menimbang-nimbang di antara dua pilihan yang akan diputuskan.
Sementara itu jika ditanya hanya dengan satu pilihan, misalnya Ani mau buku cerita yang sampulnya hijau? dia pasti akan menjawab ya, atau tidak saja. Sehingga tidak memberikan pengalaman untuk anak-anak untuk memilih dan merasa mampu dalam menentukan sesuatu.

Mendengar dan Berbicara pada Anak #WiseParenting


Mendengar dan Berbicara pada Anak

        Bayangkan jika kita berbicara sambil terburu-buru menyiapkan bekal yang akan di bawa oleh anak kita. Tentu saja omongan kita akan terucap cepat, mata kita tidak tertuju pada anak, dan seolah-olah kita malah berbicara dengan tas yang menyibukkan diri kita tersebut.
Atau bayangkan bagaimana seringnya kita tidak menghargai anak sewaktu mereka ingin berbicara dengan kita. Karena ada pekerjaan yang lebih penting dan harus diselesaikan, kita anggap anak-anak yang ingin menyampaikan sesuatu itu seperti angin lalu. Dan paling-paling kita akan berkata, Jangan ganggu ayah sekarang, Nak. Atau diperparah lagi dengan hardik, Sudah! Pergi sana! Ayah sedang sibuk! betapa hancur hati si anak yang mungkin ingin melihatkan hasil menggambarnya siang tadi, dan berharap sang ayah berkomentar bagus tentang karyanya.
Bahwa anak ingin perhatian, itu memang benar. Dan tak ada salahnya menyempatkan untuk berbicara dan mendengarkan anak dengan sepenuh hati, dengan penghargaan yang tinggi.  Terkecuali jika anak meminta perhatian berlebih. Hal itu akan menanamkan rasa kepedulian mereka dan juga membuat percaya diri mereka muncul karena merasa dihargai oleh orang tuanya.
Untuk anak-anak di bawah 3 tahun mungkin cara-cara di bawah ini dapat dilakukan sebagai respect bagi mereka dalam usaha kita berkomunikasi.
Selalu berbicara pelan, tenang, dan jelas. Tergesa-gesa dalam bicara dan intonasi seperti orang sedang berkumur-kumur membuat anak-anak bingung menyerap arah pembicaraan. Sedangkan berbicara dengan volume tinggi hanya akan membuat anak meniru dan mengucapkan suara bertone tinggi pula pada kita.
Bungkukkan atau condongkan badan sejajar dengan anak bila bicara atau mendengarkan. Paling tidak mata kita tertuju pada mata mereka.
         Lebih baik kata ‘ajakan’ dari pada kata ‘perintah’. Ayo, dan Mari akan berkonotasi lebih bisa diterima dari pada langsung menyuruh mereka melakukan ini dan itu.
Sering mengajarkan ucapan terima kasih dan maaf. Dua kata yang mungkin remeh, tetapi akan terus membekas pada anak jika orang tua juga sering mengucapkannya.
         Gunakan kata-kata dalam bahasa yang benar dan tepat, meniru-niru cadel atau bahasa bayi hanya akan membuat anak-anak tidak akan cepat mengerti bahasa orang dewasa. Ingat, anak menirukan suara dari apa yang didengar dari orang tua.
Bicaralah dengan tenang dan penuh kasih sayang, terutama jika anak-anak melakukan kesalahan atau ada perilakunya yang tidak sesuai dengan yang orang tua harapkan. Ketenangan kita dalam besikap akan berpengaruh pada anak-anak. Selanjutnya mereka pun akan bersikap sama jika bermasalah, tidak bereaksi penuh emosi, frustasi, atau marah berlebihan.
         Tidak usah memotong pembicaraan anak jika mereka ingin menyampaikan sesuatu. Dan menjelaskan sesudah mereka berbicara bahwa begitulah seharusnya jika mendengar orang lain berbicara. Sehingga mereka juga menghargai orang tua dan orang lain yang berbicara.
         Dekati anak dari depan, bukan dari belakang. Jika ingin mengusap ingus di hidung atau membersihkan sisa makanan, katakan terlebih dahulu apa yang akan orang tua lakukan padanya.
Mungkin cara-cara di atas tidak dapat seratus persen diterapkan dalam keadaan-keadaan tertentu dalam keluarga. Tetapi berkomunikasi dengan cara lebih bijak terhadap anak usia dini akan mengajarinya untuk semakin menghargai dirinya sendiri dan juga orang lain.

Mereduksi Perilaku Tidak Menyenangkan pada Anak #WiseParenting


Mereduksi Perilaku Tidak Menyenangkan pada Anak

        Kita selalu berharap agar hubungan dengan anak selalu mesra dan penuh rasa pengertian dan saling menghargai. Tapi selalu saja tidak bisa kita hindari adanya perilaku anak yang kadang tidak menyenangkan dan membuat kita segera mengambil tindakan. Mengapa anak-anak melakukan hal seperti itu, mari kita lihat beberapa penyebabnya.
1.      Kesulitan komunikasi.
            Ratih (2,5 tahun) mendadak berteriak dan membuang makanan yang baru saja diberikan oleh ibunya. Ibu terperanjat karena makanan yang baru diberikannya pada Ratih itu adalah kue yang paling disukai anak gadisnya. Bagaimana bisa Ratih langsung membuangnya ke lantai?
            Ibu Ratih tidak panik atau langsung memarahi Ratih. Tapi diangkatnya kue dari lantai dan diamati sekelilingnya. Rupanya ada beberapa semut yang menempel di kue tersebut. Ibu Ratih lalu menanyakan pada anaknya, apakah benar dia melempar kue tersebut karena ada semut-semut yang menempel. Ratih lalu mengangguk.
            Ibu yang bijak tidak langsung melakukan aksi baik verbal maupun tindakan karena anaknya menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan. Identifikasi dahulu masalahnya, baru kemudian mencari solusi agar hal serupa tidak terjadi atau dapat dikurangi.
            Dari analisa cerita di atas dapat disimpulkan bahwa Ratih mempunyai kesulitan berkomunikasi. Sehingga apa yang menurutnya benar dia lakukan langsung dikerjakannya, yaitu dengan berteriak dan membuang makanan ke lantai. Padahal seharusnya dia bisa bilang ke ibunya ada semut-semut yang tidak ia inginkan berjalan-jalan di kuenya.
            Anak dengan kesulitan berkomunikasi akan  langsung mengekspresikan keinginannya. Jadi orang tua mengajari untuk mengendalikan emosi dan meminta anak untuk memanggil orang tua jika ada sesuatu yang tidak dikehendaki anak.
            Memarahi anak akan membuatnya semakin mendapat kesulitan dalam berkomunikasi dan semakin membuatnya tidak bisa mengatur emosi karena mendapat contoh seperti itu dari orang tuanya.
            Jika kesulitan berkomunikasi semakin memburuk pada usia-usia selanjutnya, ada baiknya untuk mengajak anak ke therapist wicara bila diperlukan.
2.      Faktor lingkungan
            Andi (1 tahun) tanpa sebab menangis sejadi-jadinya saat tiba di acara pernikahan. Ini membuat orang tuanya bingung karena Andi biasa tenang bila diajak ke mal atau plaza. Kejadian itu juga membuat orang tua gusar karena mereka berada dalam pandangan banyak mata yang mengitarinya.
            Setelah diajak keluar dari area pernikahan, barulah Andi diam dan tak lagi menangis seperti saat di acara pernikahan. Rupanya Andi tidak menyukai keramaian yang terlalu, dengan musik acara pernikahan yang terlampau keras dan banyak manusia di dalamnya yang berlalu-lalang.
            Faktor lingkungan bisa membuat anak berubah perangainya. Bisa jadi karena tidak suka panas, kebisingan, atau udara yang terlalu dingin. Anak-anak yang sensitif seperti ini juga belum bisa berbicara secara langsung pada orang tua. Sehingga bila sudah diidentifikasi penyebabnya, orang tua bisa menyiapkan segala sesuatunya. Misalkan membawa kipas atau pakaian tipis bila anak sensitif terhadap panas, atau tidak lama-lama berada di keramaian jika anak sensitif terhadap suara.
3.      Mencari perhatian
            Saat ada tamu berkunjung, Rina (3 tahun) menukar minuman yang ada di gelas tamu dengan minuman miliknya. Hal ini tentu membuat orang tua jengkel terhadap Rina. Mereka serasa mendapat cap sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Apalagi tamunya adalah kepala desa, orang yang paling dihormati di wilayah mereka.
            Si pencari perhatian biasanya sengaja menunjukkan perilaku mereka saat ada tamu atau orang lain di rumah, biasanya juga di keramaian, atau rumah orang laian, bahkan di sekolah.
            Jangan hiraukan anak yang mencoba mencari perhatian dari orang tua. Karena semakin ditanggapi, semakin kelakuannya menjadi-jadi. Sebab mereka mengira bahwa kehadiran mereka sudah mencuri perhatian banyak orang. Tapi jika tidak ditanggapi, biasanya mereka akan berhenti sendiri.
            Sebenarnya anak yang mencari perhatian juga merupakan bentuk komunikasi. Mereka melakukannya karena kurangnya perhatian dan kepedulian orang tua di luar kejadian yang mereka lakukan. Oleh karenanya, berilah kepedulian saat mereka tidak sedang ingin mencari perhatian. Berilah pengertian bahwa tamu adalah orang yang patut dihormati. Dan berikan kepastian bahwa orang tua akan lebih memerhatikan atau peduli pada anak.

            Jika penyebab perilaku anak yang tidak menyenangkan bisa diidentifikasi, selanjutnya orang tualah yang bisa mereduksi perilaku tersebut.

Selasa, 19 April 2016

Hargai Anak Saat Berbicara#WiseParenting


Hargai Saat Anak Berbicara

Janet Levine dalam bukunya Know Your Parenting Personality mengatakan bahwa komunikasi merupakan alat terpenting bagi orang tua kepada anaknya. Tetapi cara berkomunikasi orang tua malah bisa membuat anak menjauh dari komunikasi itu sendiri.
Apa pasal? Sebab orang tua belum memahami betul karakter anak. Lalu disangkanya si anak mempunyai pikiran dan perasaan yang sejalan dengannya. Sehingga apapun yang orang tua katakan dan ungkapkan dengan mudah dapat diterima dan dipahami oleh anak.
Padahal sebaliknya, bisa jadi saat anak ingin berbicara, mengungkapkan pikirannya, atau ingin berkomentar tentang suatu hal, tetapi orang tua tidak meresponnya dengan baik. Dianggapnya celotehan anak hanya sebuah omongan tak bermakna dan tidak perlu digubris muatannya. Atau bahkan ada orang tua yang langsung menyetop pembicaraan anaknya dengan dalih bahwa dia tidak punya waktu untuk mendengarkan ceritanya yang tidak bermutu. Sudah, jangan bicara saja, pekerjaan rumahmu belum selesai! Mungkin itu ucapan yang sering dilontarkan orang tua. Atau juga, Kemarin kan sudah cerita tentang itu, sudah tidak usah cerita lagi!
Semua anak ingin dihargai. Dan salah bentuk penghargaan yang dapat kita berikan adalah menghargai apa yang ingin disampaikannya. Sebab apa yang dikatakan anak adalah ungkapan dari perasaannya. Dan jika perasaannya sudah diterima orang tua, maka dia pun dapat menerima perasaan orang tua yang ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
Sementara itu dalam How To Talk So Kids Will Listen and Listen So Kids Will Talk, Adele Faber dan Elaine Mazlish memberi panduan berikut:
Dari pada hanya setengah-setengah saja dalam mendengarkan anak, dengarkanlah apa yang ingin disampaikannya dengan perhatian yang penuh. Seringkali simpati kita yang diam tapi penuh perhatian tersebut malah yang dibutuhkan anak saat itu.
Dari pada pertanyaan dan anjuran yang panjang dan melelahkan, gunakan kata Oh, begitu atau Ya, ibu tahu saat mereka membicarakan sesuatu. Perkataan demikian yang disertai dengan kepedulian penuh akan mengundang anak untuk terus mengeksplorasi pikiran dan perasaannya, bahkan mungkin dapat untuk menemukan solusi dari masalah yang ia ceritakan.
Dari pada menolak perasaannya, berikan nama pada perasaan yang ingin disampaikan. Karena terkadang anak-anak tidak tahu tentang perasaan dan emosi yang ada di dalam dadanya. Semisal jika dia dalam keadaan bosan, dan dia mengungkapkannya dengan bahasanya sendiri yang diulang-ulang. Katakan saja, Ibu tahu kamu sudah sangat jenuh.
Dari pada penjelasan panjang lebar dan jawaban logis, berikan saja perkataan pada anak sesuai dengan harapannya. Misalkan jika anak berkata dalam keadaan sedikit uring-uringan mengapa pisang yang dibeli masi sepat. Maka tidak tepat jika kita membeberkan penjelasan logis bahwa pisang mempunyai waktu tertentu untuk bisa masak dan tidak sepat. Terlebih ketika mengunduhnya dalam keadaan mentah, lalu diproses dengan karbit. Tetapi cukup katakan, Saya sebenarnya juga berharap kalau pisang itu bisa masak sempurna sekarang.
Agaknya adagium yang mengatakan bahwa inilah hikmahnya Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut berlaku di sini. Memang benar, ada kalanya banyak mendengarkan dahulu sebelum berbicara akan membuat perasaan-perasaan anak keluar dan terpuaskan. Setelah itu tampaknya memberikan sedikit komentar akan mampu membuka hatinya karena perasaannya telah terlebih dahulu terbuka.

 

My Blog List

Term of Use

PAUD AMANAH BUNDA LAWANG Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino