Jumat, 20 Mei 2016

Gernas Manjur 2016


Gerakan Nasional Pembelajaran Aku Anak Jujur yang diselenggarakan oleh PAUD Amanah Bunda Lawang melibatkan seluruh peserta didik dan wali murid pada Jumat, 20 Mei 2016.
Acara yang dimulai pukul 08.00 ini diisi dengan kegiatan senam Si Kumbi, cerita I Broke the Cup/Aku Memecahkan Piala yang berisi pesan moral bahwa anak tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan, dan juga fun cooking Donat Jujur yang didahului komitmen orang tua untuk selalu jujur meskipun dalam memasak. Karena bisa jadi karena curang dalam menakar adonan malah hasilnya tidak enak bila dimakan.



Sabtu, 14 Mei 2016

Family Gathering


Family gathering plus outbond plus jalan-jalan tapi tidak melupakan unsur edukasi. Acara yang berlangsung Ahad, 15 Mei 2016 ini bertempat di lawn sepak bola di dalam Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan.
Dan yang penting seru, menyenangkan, serta bermakna bagi anak-anak dan orang tuanya.






Jumat, 13 Mei 2016

Metode Menumbuhkan Karakter Anak #WiseParenting


Metode Menumbuhkan Karakter Anak

Untuk menumbuhkan karakter anak, diperlukan adanya cara-cara tertentu agar apa yang diharapkan dapat mencapai sasaran. Dalam bukunya Pendidikan Karakter dalam Perspektif Sipiritual, A. Muwahid Saleh menjabarkan tujuh metode dalam membangun karakter.
Melalui keteladanan
Ini adalah metode paling utama dan paling kuat. Orang tua hendaknya memulai dari hal yang sepele dan paling kecil. Seperti halnya membentuk susunan puzzle yang besar, maka hal-hal yang nampak kecil dan remeh jika tersusun rapi akan membentuk suatu bentuk yang lengkap dan sempurna.
Misalnya saja dengan membuang sampah pada tempatnya dimana saja berada akan membuat anak meniru kita. Banyak anak yang dengan santainya membuang bungkus permen begitu membukanya, tapi jika mereka diberi contoh membuang bungkus makanan di tempatnya (tidak hanya di rumah), bukan tidak mungkin mereka akan menahan diri untuk tidak segera membuang sampah jika di sekelilingnya belum ada tempat sampah. Walau terkesan remeh, membuang sampah pada tempatnya ini memupuk rasa tanggung jawab yang besar pada anak.
Salat selalu tepat waktu begitu adzan bergema juga contoh kecil yang bisa dilakukan orang tua. Sebab teladan tersebut selain ingin menyampaikan pesan agar mendekatkan anak untuk ingat dengan penciptanya, juga bermakna kedisiplinan dalam waktu.
Melalui simulasi praktek (experiential Learning)
Informasi akan diterima dalam beberapa tingkat prosentase di otak. Terdapat enam jalur informasi tersebut sampai di otak yaitu dengan melihat, mendengar, mengecap, menyentuh, membau, dan melakukan. Karena itu cara melakukan sendiri agaknya akan tersimpan lebih lama di memori.
Begitu juga dengan menanamkan karakter, jika anak melakukan langsung lewat pengalamannya sendiri akan lebih berdampak nantinya. Misalnya saja mengajak anak ke panti asuhan untuk menyalurkan sumbangan dengan didahului penjelasan bahwa kegiatan itu semata-mata lillahitaala. Atau mendorong mereka untuk mau belanja di warung terdekat supaya melatih keberanian. Bisa juga dengan bermain peran dengan keluarga sehingga anak mengerti dan paham seandainya mereka menjadi orang lain untuk melatih empati.
Menggunakan ikon dan afirmasi (menempel dan menggantung)
Mengenalkan sikap positif dapat dilakukan pula dengan ikon dan tulisan yang terdapat di dekeliling anak. Bebarapa tanda dan tulisan yang ditempel dan digantungkan di beberapa tempat atau di rumah kita sendiri akan menjadi semacam pengingat bagi anak untuk lebih disiplin dan menghargai orang lain.
Misalnya saja gambar tangan yang dicuci dengan sabun yang ditempel di tempat untuk mencuci tangan. Mengenalkan isyarat dilarang masuk di jalan yang kemudian harus dihindari. Atau tulisan salam di pintu rumah supaya mengingatkan mereka selalu mengucap salam di depan pintu semua orang.
Menggunakan kekuatan pengulangan (Repeat Power)
Mengucapkan secara berulang-ulang sifat atau nilai positif akan membuat anak merasa bahwa memang seperti itulah seharusnya mereka bersikap dan bertindak.
Misalnya saja dengan mengatakan, Kakak pasti sayang sama adik. Jika diucapkan berulang-ulang oleh orang tua akan meminimalisir rasa iri, perseteruan, dan tidak mau berbagi. Karena kakak merasa bahwa dirinya memang sayang kepada adiknya.
Menggunakan 99 sifat utama Allah (Asmaul Husna)
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al Asmaul Husna (nama-nama yang baik). Q.S Thoha (20): 8.   Asmaul Husna atau sifat utama Allah yang 99 akan selalu mengingatkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut. Kemudian orang tua dapat menginternalisasi sifat tersebut dalam perangai dan kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana Rahman dan Rahimnya Allah Swt.
Menggunakan kesepakatan bersama
Kesepakan untuk nilai-nilai yang kita harapkan dapat dilakukan dengan langsung mengajak anak berembuk dan berdiskusi. Karena jika anak terlibat dengan aturan yang dia buat dan sepakati sendiri akan memunculkan rasa tanggung jawab besar untuk melaksanakannya.
Misalnya saja menepati jam main, jam belajar, dan jam tidur. Selalu jujur dan berterus terang, serta mandiri dan tidak gampang menyerah jika ada suatu masalah yang menerpa mereka.
Melalui penggunaan metafora
Metafora banyak terdapat dalam cerita dan kisah-kisah. Dan anak-anak akan selalu menyenangi cerita dan kisah dari buku-buku, terlebih buku bergambar. Melalui fabel dan penokohan, anak akan mengambil moral dan pesan positif dalam buku yang mereka baca atau dibacakan oleh orang tua.
Untuk itu sediakan buku-buku penuh moral yang mengandung karakter kuat. Sehingga anak dapat mengingat sesuatu yang menyenangkan dan bermakna. Sebab informasi atau pelajaran lebih terserap lama jika secara emosional mereka juga menyukainya.

Rabu, 04 Mei 2016

Semarak Lomba April 2016














Pada Bulan April 2016, tepatnya Ahad tanggah 24 April 2016, PAUD Amanah Bunda Lawang mengadakan berbagai lomba-lomba yang diperuntukkan bagi peserta didik dan wali murid. Lomba tersebut diantaranya mewarnai, fashion show, dan menghias taman.

Penyuluhan Kesehatan




Penyuluhan kesehatan dari Mahasiswa Poltekes RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang tentang pentingnya mencuci tangan.

Selasa, 03 Mei 2016

Mereduksi Perilakù Tidak Menyenangkan pada Anak#WiseParenting


Mereduksi Perilaku Tidak Menyenangkan

Kita selalu berharap agar hubungan dengan anak selalu mesra dan penuh rasa pengertian dan saling menghargai. Tapi selalu saja tidak bisa kita hindari adanya perilaku anak yang kadang tidak menyenangkan dan membuat kita segera mengambil tindakan. Mengapa anak-anak melakukan hal seperti itu, mari kita lihat beberapa penyebabnya.
Kesulitan komunikasi.
Ratih (2,5 tahun) mendadak berteriak dan membuang makanan yang baru saja diberikan oleh ibunya. Ibu terperanjat karena makanan yang baru diberikannya pada Ratih itu adalah kue yang paling disukai anak gadisnya. Bagaimana bisa Ratih langsung membuangnya ke lantai?
Ibu Ratih tidak panik atau langsung memarahi Ratih. Tapi diangkatnya kue dari lantai dan diamati sekelilingnya. Rupanya ada beberapa semut yang menempel di kue tersebut. Ibu Ratih lalu menanyakan pada anaknya, apakah benar dia melempar kue tersebut karena ada semut-semut yang menempel. Ratih lalu mengangguk.
Ibu yang bijak tidak langsung melakukan aksi baik verbal maupun tindakan karena anaknya menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan. Identifikasi dahulu masalahnya, baru kemudian mencari solusi agar hal serupa tidak terjadi atau dapat dikurangi.
Dari analisa cerita di atas dapat disimpulkan bahwa Ratih mempunyai kesulitan berkomunikasi. Sehingga apa yang menurutnya benar dia lakukan langsung dikerjakannya, yaitu dengan berteriak dan membuang makanan ke lantai. Padahal seharusnya dia bisa bilang ke ibunya ada semut-semut yang tidak ia inginkan berjalan-jalan di kuenya.
Anak dengan kesulitan berkomunikasi akan  langsung mengekspresikan keinginannya. Jadi orang tua mengajari untuk mengendalikan emosi dan meminta anak untuk memanggil orang tua jika ada sesuatu yang tidak dikehendaki anak.
Memarahi anak akan membuatnya semakin mendapat kesulitan dalam berkomunikasi dan semakin membuatnya tidak bisa mengatur emosi karena mendapat contoh seperti itu dari orang tuanya.
Jika kesulitan berkomunikasi semakin memburuk pada usia-usia selanjutnya, ada baiknya untuk mengajak anak ke therapist wicara bila diperlukan.
Faktor lingkungan
Andi (1 tahun) tanpa sebab menangis sejadi-jadinya saat tiba di acara pernikahan. Ini membuat orang tuanya bingung karena Andi biasa tenang bila diajak ke mal atau plaza. Kejadian itu juga membuat orang tua gusar karena mereka berada dalam pandangan banyak mata yang mengitarinya.
Setelah diajak keluar dari area pernikahan, barulah Andi diam dan tak lagi menangis seperti saat di acara pernikahan. Rupanya Andi tidak menyukai keramaian yang terlalu, dengan musik acara pernikahan yang terlampau keras dan banyak manusia di dalamnya yang berlalu-lalang.
Faktor lingkungan bisa membuat anak berubah perangainya. Bisa jadi karena tidak suka panas, kebisingan, atau udara yang terlalu dingin. Anak-anak yang sensitif seperti ini juga belum bisa berbicara secara langsung pada orang tua. Sehingga bila sudah diidentifikasi penyebabnya, orang tua bisa menyiapkan segala sesuatunya. Misalkan membawa kipas atau pakaian tipis bila anak sensitif terhadap panas, atau tidak lama-lama berada di keramaian jika anak sensitif terhadap suara.
Mencari perhatian
Saat ada tamu berkunjung, Rina (3 tahun) menukar minuman yang ada di gelas tamu dengan minuman miliknya. Hal ini tentu membuat orang tua jengkel terhadap Rina. Mereka serasa mendapat cap sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Apalagi tamunya adalah kepala desa, orang yang paling dihormati di wilayah mereka.
Si pencari perhatian biasanya sengaja menunjukkan perilaku mereka saat ada tamu atau orang lain di rumah, biasanya juga di keramaian, atau rumah orang laian, bahkan di sekolah.
Jangan hiraukan anak yang mencoba mencari perhatian dari orang tua. Karena semakin ditanggapi, semakin kelakuannya menjadi-jadi. Sebab mereka mengira bahwa kehadiran mereka sudah mencuri perhatian banyak orang. Tapi jika tidak ditanggapi, biasanya mereka akan berhenti sendiri.
Sebenarnya anak yang mencari perhatian juga merupakan bentuk komunikasi. Mereka melakukannya karena kurangnya perhatian dan kepedulian orang tua di luar kejadian yang mereka lakukan. Oleh karenanya, berilah kepedulian saat mereka tidak sedang ingin mencari perhatian. Berilah pengertian bahwa tamu adalah orang yang patut dihormati. Dan berikan kepastian bahwa orang tua akan lebih memerhatikan atau peduli pada anak.
Jika penyebab perilaku anak yang tidak menyenangkan bisa diidentifikasi, selanjutnya orang tualah yang bisa mereduksi perilaku tersebut.

Penyerahan Piala Apresiasi PTK-PAUD Kabupaten Malang




Penyerahan trophy juara 1 Apresiasi PTK-PAUD PNF se-Kabupaten Malang tahun 2016 pada saat Hari Pendidikan Nasional kepada PAUD Amanah Bunda Lawang.
Semoga memacu semangat untuk berkarya lebih baik lagi.
 

My Blog List

Term of Use

PAUD AMANAH BUNDA LAWANG Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino