Sabtu, 03 September 2016

Tipe Pola Asuh Orang Tua #WiseParenting


            Tanpa disadari, pola asuh kita terhadap anak akan sangat berpengaruh pada mentalitas dan cara pandang kehidupan anak itu sendiri. Bayangkan orang tua yang terlalu keras dan sangat kaku menerapkan pola asuh sampai anaknya berpendapat saja tidak berani mengucapkannya. Atau orang tua yang terlalu sayangnya hingga memanjakan anaknya sampai orang tuanya tidak mau sama sekali berkonflik dengannya. Nah, beberapa pola asuh tersebut langsung bisa kita ketahui ujungnya. Bagaimana dengan kita?
            Menurut Diana Baumrind dalam Effective Parenting during the Early Adolescent Transition membagi pola asuh menjadi 4 bagian, yakni permisif, otoriter, demokrasi, dan lepas tangan. Keempatnya memiliki pola asuh yang khas dan bisa berakibat pada kebebasan atau kontrol pada anak yang berlainan.
            Pola permisif yaitu pola asuh orang tua yang berusaha untuk sama sekali meniadakan hukuman, menerima apapun keinginan anak, selalu membenarkan cara anak meski meledak-ledak, mengiyakan hasrat anak, dan aksi mereka. Orang tua seperti ini sangat hangat pada anak-anaknya tetapi tidak pernah memerintah. Mereka sangat memanjakan dan pasif dalam pola asuh, dan orang tua seperti ini sangat percaya bahwa untuk mewujudkan kasih sayang mereka adalah melalui harapan yang membahagiakan pada anak.
            Orang tua permisif tidak suka mengatakan ketidakpuasan pada anak-anak mereka. Dan hasilnya, anak-anak akan melakukan apapun sebebas-bebasnya tanpa kontrol dari orang tua. Anak-anak bisa dengan sesukanya memilih keputusan apapun yang mereka inginkan tanpa masukan dari orang tuanya. Akibat dari pola asuh seperti ini adalah anak-anak yang kurang dapat mengendalikan egonya dan seenaknya sendiri.
            Pola asuh kedua adalah otoriter. Orang tua semacam ini sangat ketat mengontrol anak. Mereka mengagungkan kedisiplinan, menggunakan hukuman, dan selalu menyuruh anak-anak untuk taat pada perintah yang mereka buat. Pokoknya semua perkataan orang tua harus dituruti karena ada konsekuensi yang mereka terapkan jika anak membantah dan tidak patuh.
            Orang tua otoriter tidak perlu mendiskusikan apapun tentang peraturan yang berlaku di rumah. Karena yang penting, semua yang mereka perintahkan harus dipatuhi anak. Orang tua semacam ini juga percaya bahwa anak-anak harus menerima, tanpa membantah sedikitpun, aturan dan perintah yang mereka buat. Pada kenyataannya, anak-anak dengan orang tua semacam ini akan menghasilkan dua sikap berbeda anak, terutama jika berada di luar lingkungan rumah. Pertama, kemungkinan anak akan menjadi pemberontak, dia akan merasa sangat bebas ketika tidak berada di dalam rumahnya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan yang membelenggunya. Lalu bisa jadi menghasilkan sifat agresif. Sedangkan yang kedua, kemungkinan anak tidak dapat mandiri dan tidak punya inisiatif. Seringnya perintah dan perlakuan keras orang tua membuat anak seolah takut melakukan apapun karena ada konsekuensi baginya jika salah dalam melakukan sesuatu. Akhirnya anak hanya pasif dan tak akan melakukan apapun sebelum diperintah terlebih dahulu.
            Orang tua demokrasi mencoba memberikan kebebasan pada anak tetapi dalam batas-batas dan kendali. Mereka tidak akan langsung bicara, “Pokoknya ibu sudah katakan seperti itu, harus tetap dilaksanakan!” tapi mereka mendengarkan alasan dalam sudut pandang dan alasan yang dibuat anak, “Ibu memberimu waktu lima menit, sesudah itu kamu harus melaksanakannya.”
            Orang tua tipe ini mau untuk diajak berdiskusi dengan anak-anak, menyepakati bersama aturan, dan menerapkan aturan sesuai dengan kesepakatan yang sudah diketahui bersama dengan anak-anak. Sehingga anak-anak akan belajar pula tentang tanggung jawab karena mereka mengetahui sebelumnya konsekuensi apa yang akan diperoleh jika melakukan atau tidak melakukan ini dan itu.
            Orang tua yang lepas tangan adalah pola asuh terakhir. Biasanya orang tua seperti ini mempunyai waktu amat sedikit untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Mereka tidak akan memerintah atau mengiyakan apapun dari anaknya. Semua terserah anaknya karena mereka tidak terlibat apapun atau bahkan mengabaikan akan. Kalimat yang sering diucapkan orang tua model ini seperti, “Terserah, pokoknya saya tidak mau tahu!” atau, “Mengapa ibu harus peduli?”

            Akibat dari orang tua yang berlepas tangan karena tidak memiliki banyak waktu dengan anak adalah seperti pada halnya pada pola asuh permisif. Anak akan mempunyai perilaku seenaknya, bebas sebebas-bebasnya, bahkan lebih parah lagi yakni bermasalah pada perilakunya di kehidupan sosial.

Rabu, 31 Agustus 2016

Gebyar PAUD di Yonkav 3 Singosari Malang




Keceriaan nampak terpancar di wajah-wajah lucu nan imut dari sekitar 3000-an peserta acara gebyar PAUD yang diadakan oleh Himpaudi Kabupaten Malang. Sedangkan pendidiknya sekitar 800-an Cuaca yang cerah ceria juga seakan mendukung terselenggaranya gebyar PAUD dalam rangka memperingati hari jadi Himpaudi yang jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2016.
Acara gebyar PAUD yang melibatkan seluruh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari wilayah Kabupaten Malang bagian utara ini  dipusatkan di batalyon kavaleri/Yonkav 3 Andhaka Cakti, Singosari-Malang. Sebuah markas batalyon yang menyimpan tank dan kendaraan tempur khas TNI Angkatan Darat lainnya.
Dan di sinilah keceriaan itu bermula, karena anak-anak yang berusia 2 tahun hingga 6 tahun tersebut dapat bergantian menaiki tank dengan didampingi oleh ibu-ibu gurunya (atau mereka menyebut dengan Bunda).
Gebyar PAUD yang dimulai pukul 08.00 WIB ini juga dihadiri oleh ketua Himpaudi Kabupaten Malang, Dra. Lies Zuhroh dan dibuka oleh Kepala Bidang PLS Kabupaten Malang, Drs. Sudarjo, M.Pd. yang mewakili Kepala Dinas Kabupaten Malang. Dalam sambutannya kepala Bidang PLS Kabupaten Malang menyatakan apresiasi yang besar atas terselenggaranya gebyar PAUD Kabupaten Malang tahun 2016 dan berharap acara ini bisa berlangsung setiap tahunnya.
Selanjutnya setelah pembukaan, diadakan senam masal Si Kumbi yang dilakukan antara anak-anak dan orang tuanya. Senam Si Kumbi selain dilaksanakan dengan gerakan-gerakan yang mencerminkan kegembiraan, juga syair yang terkandung di dalamnya sarat akan pesan moral. Utamanya kejujuran bagi anak-anak. Senam ini bahkan menjadi senam wajib pada pagelaran Gerakan Nasional Pembelajaran Aku Anak Jujur (Gernas Manjur) yang diadakan serentak oleh PAUD pada Bulan Juli lalu di seluruh Indonesia.
Nah, setelah senam masal Si Kumbi kemudian peserta didik yang sudah diatur bergiliran per kecamatan ini lalu menaiki tank dan kendaraan lapis baja lainnya. Dengan dibantu oleh anggota tentara, anak-anak ini dengan senangnya dapat naik ke dalam kendaraan tempur tersebut. Bahkan beberapa diantaranya ada yang naik ke atas kendaraan. Tentu saja masih tetap dalam pengawasan guru dan tentara.

Meskipun tank yang mereka naiki hanya sekitar 10 atau 15 menit saja dan berkeliling di seputar wilayah lapangan Yonkav 3 Singosari-Malang, tetapi anak-anak begitu bersemangat dan merasa terkesan dengan pembelajaran mereka hari itu yang amat menyenangkan. Malah ketika ditanya setelah naik tank, “Apa cita-citamu?” serentak mereka akan menjawab, “Jadi tentara!”



Jumat, 26 Agustus 2016

Kalender Pendidikan PAUD Amanah Bunda Lawang 2016-2017


Kalender Pendidikan PAUD Amanah Bunda Lawang Semester 1 
Tahun ajaran 2016-2017



Kamis, 25 Agustus 2016

Gebyar Kemerdekaan RI ke-71 di PAUD Amanah Bunda Lawang






Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara kegembiraan sekaligus perjuangan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 dilakukan penuh semarak di PAUD Amanah Bunda Desa Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Kali ini lomba-lomba ketangkasan yang diikuti oleh seluruh peserta didik PAUD Amanah bunda Lawang beserta orang tuanya tersebut diselenggarakan pada Hari Jumat tanggal 26 Agustus 2016. Lomba-lomba yang diadakan antara lain: lomba makan kerupuk dan lomba berjalan di atas karton titian untuk para peserta didik. Sedangkan untuk orang tuanya diadakan lomba membawa tampah yang didalamnya terdapat bola tenis dan lomba memasukkan benang ke dalam jarum sambil lari cepat.

Tentu kelucuan dan gelak tawa mewarnai lomba yang diselenggarakan oleh PAUD Amanah Bunda Lawang kali ini. Menurut Choirul Qomariah, S.P., Kepala Sekolah PAUD Amanah Bunda Lawang menyatakan bahwa kegiatan untuk menyemarakkan kemerdekaan selalu diadakan setiap tahunnya. "Entah itu yang dilakukan atas undangan dari pihak luar ataupun kami mengadakan di dalam PAUD Amanah Bunda sendiri, kami selalu aktif berpartisipasi," terangnya.






Rabu, 24 Agustus 2016

Indikasi Temper Tantrum #WiseParenting


       Anis (3 tahun) diajak berjalan-jalan oleh ibunya di pertokoan. Tiba di sebuah etalase yang dipenuhi dengan boneka, Anis pun terpesona pada satu boneka berambut panjang dengan tidak berkedip. Sedetik kemudian bocah perempuan itu langsung meminta pada ibunya untuk segera membelikan boneka tersebut. Ibu Anis merespon tidak karena merasa boneka Anis sudah banyak dan minggu lalu pun sudah pula ibunya belikan yang baru. Anis tetap ngotot dan berulang kali meminta ke ibunya. Sedang jawaban ibunya pun masih tidak. Tak seberapa lama Anis mulai menangis, semakin lama semakin kencang. Dan kini ia pun tidak mau bergerak dari tempat etalase tersebut. Malah ia bergulingan ke lantai dengan kaki yang menendang-nendang sembari menjerit dan menunjuk ke arah boneka yang dia inginkan.
Kita, orang tua, pasti pernah mengalami bagaimana seorang anak mengalami saat-saat marah yang keterlaluan, mengamuk, bergulingan di lantai, mencakar dirinya dan orang lain, membuang apapun yang ada di dekatnya, serta berteriak-teriak tak karuan dengan keras sembari menangis kencang. Itulah saat anak-anak mengalami temper tantrum. Masa yang membuat kita juga ikut terlibat dalam suasana stress, geregetan, marah, dan ingin sekali mengambil tindakan supaya anak kita segera menghentikan perbuatannya tersebut.
Temper tantrum sebenarnya perilaku umum yang biasanya didapati anak usia 0-6 tahun yang mungkin sekali ingin mengekspresikan kemarahannya dengan melakukan perbuatan seperti dicontohkan di atas, seperti menendang, membuang apapun yang ada di dekatnya, berteriak, menangis sejadi-jadinya, bergulingan di lantai, bahkan terkadang sampai menahan nafas hingga sesenggukan dan susah menghirup udara.
Tantrum mulai terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun, ketika mereka mulai bertahap mengenal tentang konsep diri. Meskipun konsep aku dan apa yang sebenarnya kuinginkan cukup mampu mereka terima, tapi mereka terlalu kecil untuk mengetahui seharusnya bagaimana memuaskan apa yang mereka inginkan tersebut. Sehingga tantrum menjadi titik temu antara energi dan hasrat yang terlampau besar pada anak dengan kebutuhan dan keinginan yang ingin segera mereka wujudkan yang terkadang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
Biasanya tantrum memuncak di usia 2 hingga 3 tahun, dan akan mengalami penurunan pada usia 4 tahun. Sedang jika di usia 4 tahun atau lebih anak masih sering kali mengalami temper tantrum, ini harus diwaspadai dan dievaluasi oleh professional. Bisa jadi hal tersebut sudah menyimpang dari perilaku normal dan pencetus timbulnya masalah perilaku yang lebih besar lagi.
Kebanyakan tantrum di usia 2-3 tahun terjadi jika mereka mendapat perkataan atau jawaban dari orang tuanya tidak terhadap sesuatu yang mereka inginkan. Kemudian akan mereda jika keinginan yang anak-anak inginkan itu terlaksana. Sedangkan rentang masa terjadinya tantrum ini tergantung dari tingkat energi anak serta kesabaran dan keterampilan orang tua dalam pengasuhan. Karena tentunya kita ingin sekali menghentikan tantrum, bukan? Terlebih jika anak melakukan tantrum di tempat umum yang pastinya membuat kita menjadi gusar.

Senin, 01 Agustus 2016

Memupuk Tanggung Jawab pada Anak #WiseParenting


       Bertanggungjawab berarti mampu dipercaya, menepati janji, dan menghargai komitmen. Berani tanggung jawab juga berarti konsekuensi dari perkataan dan perbuatan. Anak-anak yang mempunyai rasa tanggung jawab tidak akan begitu saja mencari alasan-alasan pemakluman atas perbuatan yang ia lakukan atau malah justru menuduh orang lain yang melakukan.
Cobalah dengarkan gaya beberapa orang tua jika anaknya (1-3 tahun) secara tidak sengaja jatuh, mereka akan berkata, Sudah bangun tidak apa-apa, Iiihkodoknya nakal. Kalimat itu sering terdengar. Jika tidak menyalahkan kodok yang memang tidak ada di tempatnya, barang kali akan menyalahkan tembok, batu, kerikil, dan lainnya. Alangkah lebih baik jika mengatakan, Sudah bangun tidak apa-apa, nanti jika lewat sini hati-hati ya, matanya melihat ke bawah. Ungkapan tersebut lebih bermakna rasa tanggung jawab. Sebab kesalahan terjatuh disebabkan karena anak kurang berhati-hati. Bukan karena kodok dan sebagainya. Sehingga anak tidak akan melempar kesalahan dan tanggung jawab pada yang lain apabila dia yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Beberapa langkah bijak yang dapat kita lakukan agar anak mampu bertanggungjawab adalah sebagai berikut:
Beri contoh bagaimana bertanggungjawab. Dari pada menasehati dan memerintah, lebih baik contoh dan lakukan bersama anak. Misalkan sewaktu membereskan mainan setelah dipakai. Jika kita berteriak saja, kecil kemungkinan anak (2-3 tahun) akan dengan senang hati mengikuti. Tapi kita contohkan dengan bersama-sama merapikannya. Sambil terus diberi arahan bahwa seperti itulah cara merapikan mainan dengan benar.
Kenali perkembangan rasa tanggung jawab mereka. Sebab tidak ada yang instant dengan kemampuan mempunyai rasa tanggung jawab ini pada anak-anak. Semuanya diawali setahap demi setahap dan kita tidak bisa hanya langsung memberikan arahan tanpa harus mencontohkan seperti apa bentuk tanggung jawab tersebut. Ingat, anak usia dini masih berpijak pada nalar konkret. Contohnya, jika pada hari berikutnya anak belum merapikan mainan cobalah kembali merapikan bersamanya. Jika kita sendiri yang melakukannya, maka ia berpikir bahwa merapikan mainan adalah urusan orang tua dan bukan menjadi tanggung jawabnya. Di hari berikutnya, awasi saja sehingga dia sendiri dapat melakukannya sendiri.
Ajari anak memilih sesuatu disertai dengan konsekuensinya. Misalnya, jika suatu saat anak  (2-4 tahun) merengek minta dibelikan balon maka katakan jika dia sudah mendapatkannya maka tidak ada lagi uang jajan, itu konsekuensinya. Dan kita harus menepati ucapan kita supaya dia belajar berkomitmen.
Jangan menunggu sampai anak selesai melakukan tanggung jawabnya, berilah penghargaan yang bisa menguatkan pengertian tanggung jawabnya. Misalkan, sepulang sekolah anak langsung menaruh sepatu dirak sepatu, langsung katakana saja, Nah, kalau ditaruh di situ kan jadi rapi dan indah.
Bersikap tenang bila ada perbuatannya yang membuat kita jengkel, misalnya menumpahkan susu di atas meja. Memarahinya bisa membuatnya mencari alasan dan pembenaran, tapi suruhlah untuk mengambil lap lalu membersihkan tumpahan meja. Karena itu konsekuensi atas kelalaiannya.
Hindari terlalu memanjakan anak. Ingatlah bahwa masalah-masalah kecil pada anak yang sering kita selesaikan sendiri tidak akan membuatnya bertambah rasa tanggung jawabnya, padahal di belakang hari segudang masalah akan menanti mereka. Misalkan pada anak 5-6 tahun dengan selalu menyuapi, menatakan tas sekolah dan mainan, dan memakaikan baju.
Beritahukan tentang waktu dan jam. Meskipun anak-anak belum bisa melihat jam, tapi jika kita beritahu bahwa lima menit lagi harus mandi, atau sepuluh menit waktunya tidur, atau lima belas menit lagi menyudahi permainan. Dan itu juga berarti memberi konsekuensi pada anak untuk memilih. Jika tanpa pemberitahuan tiba-tiba kita memerintahkan mereka untuk tidur misalnya, bisa jadi mereka akan mengamuk karena tidak mau. Tapi dengan memberi kesepakatan waktu, jelas mereka akan menyadari konsekuensinya sendiri.
Buku-buku cerita dan kisah dapat juga membuat anak mempunyai gambaran bagaimana seharusnya rasa tanggung jawab itu dimiliki.
Menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak membutuhkan waktu dan bertahap. Tapi jika dilakukan dengan kuat dan tegas serta konsisten diterapkan, maka karakter tanggung jawab mudah-mudahan dapat ditumbuhkan selagi dini.
Dan bagaimanapun juga kelak anak-anak kita akan menjadi pemimpin, sehingga karakter tanggung jawab harus ia lekatkan dalam-dalam di kehidupannya. Lalu terlihatlah beberapa ciri yang bisa dilihat pada diri anak yang sudah terlatih mempunyai rasa tanggung jawab tersebut. Diantaranya adalah selalu mengerjakan pekerjaan atau tugas dengan cara terbaik, maksimal dan penuh semangat, tidak mudah menyalahkan orang lain atas kegagalan dan kesalahan dalam pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, menuntaskan pekerjaan dan tidak setengah-setengah berhenti di tengah jalan, dan membiasakan diri untuk selalu bersemangat dan tidak bermalasan.

Sabtu, 30 Juli 2016

Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain #WiseParenting


      Bayangkan jika di dekat kita ada seorang anak usia TK yang sudah pandai menirukan tokoh antagonis sinetron, misalnya dengan mendengus dan melirik dengan sinis kepada kita meskipun kita tidak mengenalnya. Tentunya kita sangat jengkel walaupun dia hanya seorang anak kecil yang mungkin melakukannya karena ketidakpahaman. Dan biasanya secara otomatis pikiran kita tertuju pada orangtuanya, yang bisa jadi tidak bisa menanamkan rasa penghargaan kepada anaknya.
Menghargai orang lain sebenarnya menghargai pada diri sendiri. Itu yang harus kita ingat dan tanamkan pada diri anak. Sebab jika kita ingin dihargai oleh orang lain, terlebih dahulu kita harus menghargai orang lain. Meskipun anak-anak usia dini masih dalam tahap belajar tentang cara menghargai dan menghormati orang lain, tetapi membangun rasa penghargaan pada orang lain sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Beberapa cara yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa menghargai orang lain adalah: pertama, latihlah anak-anak untuk berbicara yang baik, dengan bahasa dan tutur serta intonasi yang baik pula. Tunjukkan bagaimana cara berbicara yang sopan pada orang lain. Karena anak-anak yang sering mendengar teriakan, umpatan, cara bicara yang tidak sopan dari orang tuanya, secara otomatis akan menerapkan hal yang sama meski orang tuanya berusaha menunjukkan respect pada orang lain.
Kedua, bantulah anak-anak untuk bisa memecahkan masalah tanpa kekerasan. Ketika tengah menghadapi konflik, doronglah anak-anak untuk mengetahui apa sebenarnya masalah tersebut. Contohnya, jika adik (1,5 tahun) menyobek buku milik kakak (5 tahun) sehingga kakak menjadi marah, coba jelaskan masalah dengan mengatakan, Ibu tahu kakak marah, memang adik tidak seharusnya merobek buku kakak. Tapi kakak juga mengerti tahu kalau adik mungkin tidak sengaja menyobeknya karena itu dipikirnya makanan. Dengan mengetahui akar permasalahan, anak akan menjadi lebih menghargai orang lain dan tidak langsung menlakukan tindakan kekeeasan untuk mengatasi konflik.
Ketiga, ceritakan secara langsung tentang pentingnya menghormati orang lain dan terutama yang lebih tua karena memang itulah tuntunan akhlak dalam agama, juga sesuai dengan norma ketimuran kita. Ceritakan bagaimana kisah Nabi Muhammad yang menghormati semua orang. Karena Rasul juga pernah bersabda, Bukanlah termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati orang lain yang lebih tua di antara kita.
Menghormati dan menghargai pada orang yang lebih tua dan guru selayaknya sudah ditekankan sejak usia dini. Kita tidak ingin kehilangan jati diri sebagai muslim, karena dengan informasi yang mudah sekali diakses sekarang ini membuat anak-anak si peniru hebat itu dengan mudahnya menyerap segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma kepatutan ketimuran yang kita punya.
Al Ghazali telah mengatakan di Al-Ihya bahwasanya beliau menganjurkan anak-anak tidak dibiasakan meludah di majelisnya, mengeluarkan ingus, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan. Hendaknya anak-anak dibiasakan untuk mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih dewasa darinya berbicara, berdiri menghormati orang yang lebih tua di atasnya, meluaskan tempat duduk, duduk di hadapan orang yang lebih tua dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang kotor. Dan kesemuanya itu jelas berkenaan dengan menghormati orang lain yang berawal dari menghargai diri sendiri.
Sementara itu untuk membuat anak-anak bisa menghargai diri sendiri dapat dilakukan dengan cara:
Doronglah anak-anak untuk membangun identitas diri yang positif yang fokus pada integritas dan kemampuan serta bakatnya.
Tekankan bahwa menghargai orang lain itu harus dilakukan setiap saat di dalam kehidupan sehari-hari.
Bekerjasamalah dengan anak untuk dapat membangun talenta dan bakatnya sehingga anak merasa dirinya adalah pribadi yang unik dan pantas dihargai.
Bantulah anak untuk mengambil keputusan memilih akhlak dan adab yang bagus, jelaskan tujuannya supaya hal itu bisa tertanam di hatinya.
Ajarkan anak meminta maaf, jika sudah mengidentifikasi konflik dan anak memang bersalah, maka mengajari meminta maaf terlebih dahulu akan membuatnya mampu menghargai diri sendiri dengan mampu berjiwa besar.
Berikan penghargaan yang tulus jika anak melakukan penghormatan pada orang lain. Misalnya, Wah, kakak sudah salim sama nenek, itu bagus!
Jangan berpihak atau langsung menghukum, apabila suatu hal ada konflik, maka jangan berpihak pada siapapun. Dudukkan masalah dengan benar. Itu akan membuat anak merasa bahwa dirinya dan orang lain juga punyak hak dan kesempatan yang sama.
Pada akhirnya, karakter menghargai orang lain dan diri sendiri itu akan melekat kuat di benak anak jika kita juga menghargai dan menghormati mereka, begitu juga karya-karya yang mereka buat, pekerjaan-pekerjaan baik yang sudah mereka lakukan, dan ucapan-ucapan santun yang mereka tuturkan.
 

My Blog List

Term of Use

PAUD AMANAH BUNDA LAWANG Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino