Senin, 25 September 2017

LITERASI UNTUK SEMUA







Tidak hanya literasi awal untuk peserta didik PAUD (KB-TA) Amanah bunda Lawang, orang tua yang duduk-duduk sembari menunggu anaknya juga berhak untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan.
Itulah sebabnya, semangat literasi juga ditularkan di lembaga ini pada seluruh wali murid. Sebuah box baca yang berisi buku-buku parenting, resep masakan, tanaman, agama, dan lainnya ditaruh di kotak ini. Jam baca setelah anak-anak masuk kelas dan berakhir saat mereka pulang.
Jadi selama menunggu buah hati, orang tua tidak hanya bicara ngalor ngidul, namun juga mendapat pengetahuan yang berguna lewat membaca.

Kamis, 21 September 2017

SAMBUT 1 HIJRIAH 1439 DENGAN PAWAI BERSAMA






PAUD (KB-TA) Amanah Bunda Lawang bekerja sama dengan Remaja Masjid Al-Furqan dan At-Taqwa Dusun Watugel Desa Mulyoarjo melaksanakan pawai bersama keliling desa pada Kamis (21/9) dalam memperingati tahun baru Islam 1 Hijriah 1439 ini.
Memakai payung yang dihias cantik, peserta didik PAUD (KB-TA) Amanah Bunda Lawang berjalan menyusuri jalan desa yang disaksikan oleh warga desa di sepanjang jalan.
Acara ini bertujuan selain untuk mengenalkan tahun baru Islam, juga sebagai momentum perubahan ke arah yang lebih baik bagi seluruh warga sekolah.

Selasa, 19 September 2017

PERAN WALI MURID DALAM PEMBUATAN KEBUN SEKOLAH






Musim kemarau yang masih berlanjut membuat banyak tanaman yang ada di belakang gedung PAUD (KB-TA) Amanah Bunda Lawang layu dan perlu pembaruan. Karena itulah pada beberapa hari di Bulan September yang masih panas ini, wali murid PAUD Amanah Bunda Lawang bergotong royong untuk kembali menanami taman yang dulu sempat menawan dan dijadikan ajang selfi oleh ibu-ibu dan pengunjung lainnya.
Kali ini tanah pekarang sekolah tak hanya melulu ditanami tanaman bunga, tetapi lebih kepada sayur mayur seperti cabe, tomat, terong, sawi, seledri, bawang, dan lainnya.
Ini tak lain merupakan semangat untuk mengajari anak-anak berwirausaha dengan menanam dan berkebun. Namun untuk membuat bedeng dan meratakan tanah jelas orang tua yang harus bertanggungjawab.
Baiklah, kita acungi jempol untuk paguyuban sekolah yang membuat program tersebut.

Kamis, 14 September 2017

SEMANGAT LITERASI AWAL UNTUK ANAK





Gerakan literasi nasional perlu mendapat dukungan yang luas. Bagi PAUD (KB-TK) Amanah Bunda Lawang gerakan literasi sungguh penting. Kesadaran untuk membuat bangsa ini maju dengan melek literasi memang sudah harus dilakukan bahkan dari lembaga pra-sekolah.
Namun bagaimana dalam pelaksanaannya? Sebab yang kita hadapi adalah anak-anak yang tentu berbeda dengan orang dewasa.
Oleh karenanya PAUD Amanah Bunda Lawang memiliki metode get and touch untuk literasi awal bagi peserta didiknya. Get and touch mencoba untuk memodifikasi kecerdasan kinestetik yang secara umum banyak ditemui pada anak-anak dengan kecerdasan anak lainnya yang melekat. Sehingga anak-anak mengenal literasi awal dengan terus bergerak sambil bermain, memakai flash card, bernyanyi, dan segudang aktifitas lainnya yang menyenangkan.

Minggu, 03 September 2017

PEDULI ROHINGYA KB-TA AMANAH BUNDA LAWANG






Terlalu sulit menjelaskan dengan kata-kata apa yang sedang terjadi pada ethnis Rohingya yang ada di Myanmar bagi anak-anak. Namun dengan kalimat sederhana bahwa ada orang-orang dan anak-anak yang terusir dari kampung halamannya dengan sangat menderita, maka empati anak-anak pun berubah menjadi kepedulian.
Dan ternyata memang tiada yang seindah selain berbagi. Meskipun hanya mengumpulkan recehan, tetapi kepedulian anak-anak untuk membantu saudaranya muslim yang teraniaya ini layak untuk dihargai. Penggalangan donasi kepedulian ini dilakukan pada Ahad dan Senin (3-4/9/2017).
Rencananya hasil sumbangan dari anak-anak KB-TA Amanah Bunda Lawang dan wali murid serta masyarakat sekitar Dusun Watugel ini akan disumbangkan melalui YAS (Yayasan Ash-Shohwah) Malang untuk aksi peduli Rohingya.

Senin, 28 Agustus 2017

AYO KE MASJID


         Masjid memang bukan tempat rekreasi. Tapi di masjid orang dapat memperoleh tujuan rekreasi itu sendiri, yaitu menenangkan jiwa dan membuat bahagia. Anak-anak tak ada salahnya diajak ke tempat yang mulia tersebut. Mengenalkan masjid sebagai tempat beribadah dan tempat penyembahan kaum muslim akan membuatnya mencintai untuk selalu ke masjid saat adzan sudah menyeru. Terutama yang rumahnya berdekatan dengan masjid.
Namun ada kalanya beberapa orang tua yang salat di dalamnya terkadang merasa terganggu dengan tingkah polah anak 2 atau 3 tahun yang ada di masjid. Bagaimana tidak? Ketika sedang khusuk-khusuknya dalam takbir dan ruku’ tiba-tiba seorang anak menghampiri dan menginjak-injak tempat sujudnya. Lalu berlarian ke sana ke mari bahkan berupaya menaiki tangga mimbar. Akhirnya, tak jarang ada orang yang melarang anak-anak dibawa ke masjid dengan mengatasnamakan kekhusukan.
Baiklah, saya tidak akan menyalahkan orang tua yang merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak di masjid. Bahkan terkadang ada seseorang yang menegur dan memerintahkan untuk langsung menggendong pulang anak yang menangis di dalam masjid. Belum lagi ketika nanti bocah kecil itu menangis karena minta pulang atau mendadak merengek ingin pipis.
Pun saya juga tak akan pernah menyalahkan anak-anak yang begitu antusias ingin melihat seperti apakah tempat untuk memuja Penciptanya tersebut. Bukti bahwa rasa keingintahuannya yang tinggi terekam saat dia berlarian ke sana ke mari, memandangi orang yang salat, atau berupaya mendekat ke imam salat.
Kemudian jika ada peringatan untuk tidak membawa anak kecil ke masjid, apakah kita tidak akan mengenalkan anak-anak ke tempat suci tersebut? Meskipun mereka belum baligh dan belum mendapat kewajiban untuk menunaikan salat, ada baiknya untuk sekali-kali mengenalkan masjid.
Pilihan bijak membawa anak usia dua atau tiga tahun ke masjid adalah saat salat berjamaah belum dikerjakan. Diawali dengan mengatakan bahwa masjid adalah tempat suci sehingga langkah kaki pun harus suci saat memasukinya. Maka paling tidak basuhlah kaki sebelum memasuki masjid, atau sekalian mengenalkan bersuci (wudhu) pada anak-anak. Berikutnya terangkan bahwa jika salat berjamaah ditunaikan hendaknya diam dan mengikuti gerakan-gerakan salat. Dan itu jauh lebih efektif jika di rumah sebelumnya sudah diajari dan dibiasakan untuk mengikuti gerakan salat. Meskipun saya menjamin anak-anak akan lebih nyaman untuk duduk di pangkuan atau menaiki punggung saat sujud dilakukan.
Dan tidak perlu marah jika anak-anak ingin menaiki punggung atau minta digendong. Karena Rasul pun dengan rasa cintanya menggendong cucu beliau saat salat sedang berlangsung. Diriwayatkan oleh Abu Qatadah Al-Anshari bahwasanya Ruasulullah SAW pernah salat sembari menggendong Umamah, putri Zainab. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah; dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali (Bukhari, Kitabush Shalat 486)

ALLAH ITU MAHA PENYAYANG, NAK


       Tiba-tiba saja ketika bermain dengan kakaknya, Nawwaf (4 tahun) berseru, “Nanti Allah marah! Kakak tidak boleh mengambil mainanku. Sekarang serahkan padaku! Mana, ayo cepat! Nanti saya laporkan Allah!”
Saya amat tertegun saat anak kedua saya bisa melontarkan kata-kata seperti itu pada kakaknya. Tentu saja karena apa yang baru saja keluar dari mulut kecilnya tersebut mengandung tiga interpretasi linear sekaligus bagi saya, sebagai ayahnya. Pertama, Alhamdulillah, anak itu sudah mengenal Tuhannya walau sejauh apa yang bisa ia terima di nalarnya (setidaknya dia menyebut asma Allah). Dan yang kedua, adanya persepsi Tuhan yang marah jika terdapat kelakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Serta yang ketiga, baginya Tuhan adalah tempat untuk melaporkan segala sesuatu.
Ada perasaan yang bergetar saat si kecil Nawwaf sudah biasa menyebut nama Tuhan. Entah itu Bismillah, Alhamdulillah, doa sebelum makan, doa sebelum tidur, dan lainnya. Mengenalkan adanya Allah sebagai satu-satunya pencipta alam semesta dan pengatur jagad raya itu memang tugas utama dan prioritas awal sebagai orang tua. Bukankah fitrah manusia memang ingin menghamba dan mencari Tuhannya? Kalaupun nanti anak-anak kelak dewasa dan mampu berfikir dengan benar, saya yakin semuanya akan mencari jati dirinya sebagai ciptaan dari Tuhan.
Namun, tidak semua anak-anak paham dengan sifat-sifat Allah. Nawwaf kecil bahkan mengidentikkan Tuhan sebagai sosok yang mudah sekali marah serta paling ditakuti oleh semua anak yang lain. Benar, Tuhan memang harus ditakuti. Karena semua perintah dan larangan-Nya wajib ditaati. Tetapi Tuhan juga mempunyai kasih dan sayang yang berlimpah kepada seluruh hambanya.
Maka pangkulah anak-anak kita. Berilah contoh sempurnanya tubuh kita yang diciptakan oleh-Nya. Mata yang bisa melihat keindahan dunia, telinga yang bisa mendengar merdunya suara, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, serta udara yang tiada habis kita hirup sepanjang hari. Dan itu adalah karunia Allah yang tiada batas pada manusia. Jadi, Nak, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah mengasihi dirimu, juga ayah ibumu.
Saya trenyuh saat Nawwaf akan melaporkan kelakuan kakaknya yang tidak ia sukai pada Allah. Meskipun anak-anak biasa suka jujur dan terasa asal berbicara. Tapi setidaknya dia tahu bahwa Allah itu tempat mengadukan semua permasalahan yang ada. Dan perlu ada penjelasan bahwa Allah bukan semata-mata Dzat untuk mengadu, tetapi juga memohon segala sesuatu.
Kemudian ajaklah anak-anak kita untuk mengangkat tangan bersama. Berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Meminta kelapangan rizki dan usia panjang yang berkah. Bahkan harapan-harapan konkret anak yang bisa ia nalar pun tidak ada salahnya dilantunkan. Misalnya saja berdoa untuk meminta mobil mainan, sepeda, buku bergambar yang baru, dan yang lainnya. Bukankah Allah Maha Mengabulkan segala permintaan orang yang meminta. Atau paling tidak sudah tertanam oleh anak bahwa Allah tempat bergantung hambanya. Dan rizki yang diperoleh dari orang tuanya itu sebenarnya rizki yang datang dari Allah SWT.

 

My Blog List

Term of Use

PAUD AMANAH BUNDA LAWANG Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino